Negeri Kenal Malu

Peradaban. Kata itu merujuk pada adab, moral, etika dan nilai luhur.

Negeri tak beradab. Kalimat ini merujuk ke negeri yang tak bermoral, tak beretika dan tak paham nilai luhur dari negerinya.

Lalu peradaban negeri. Kalimat tersebut mengacu pada negeri yang berlangsung dengan moral dan adab yang pas sesuai takaran zamannya.

Tiga kalimat di atas merupakan simulasi dasar sebelum melihat realitas negeri saat ini. Negeri ini masih beradab atau hanya tinggal peradabannya saja? Kalau tinggal perdabannya saja, pantaslah kita mengelu-elukan candi borobudur, candi parambanan, dan peninggalan lainnya. Toh semuanya akan berfungsi selayaknya monas, tinggal kenangannya saja. Nah, apa negeri ini hanya tinggal kenangannya saja?

Negeri kita saat ini belum sampai pada etika sebagai negeri. Belum bisa dikatakan sebagai negeri yang bermoral, apalagi negeri yang berakhlak. Mau berakhlak? Bernilai luhur baik, beretika dan bermoral yang merupakan bagian dari akhlak saja tak sampai, mau berakhlak. Jangan sungkan-sungkan mengakui negeri ini tak beretika. Kalau ragu untuk mengidentifikasi benar tidaknya tentang etika tadi, lihat pemimpinnya. Lihat orang yang katanya memiliki jabatan dalam pemerintahan. Jika mereka beretiket, maka etika negeri bisa dianggap masih ada di punggung Indonesia ini.

Kita mungkin pernah berpikir, bahwa etika itu hanya terpaut pada tingkah laku perbuatan. Padahal, kalau mau melihat lagi tentang peradaban, yang disebut sebagai etika adalah pemikiran, budaya, adab, dan nilai yang tidak hanya berbentuk tindakan. Dia bisa berbentuk ideologi, landasan, pikiran, dan hal lain yang tak berkaitan dengan tingkah laku. Etika itu sifat, bukan kata kerja. Kalaupun bertransformasi menjadi tindakan, dia hanya sekadar bentuk reflek yang terjadi begitu saja.

Jadi aneh saja kalau mengatakan negeri ini beretika, tapi saat pemimpinnya mau melakukan tindakan masih sadar kamera, sadar bahwa tindakannya harus menjadi perhatian banyak orang. Itu bukan etika namanya. Ingin tahu? Silakan pikir sendiri.

Negeri yang keadaan ekonomi dan hukumnya berjalan begitu saja tanpa manipulasi argumen dari media dan orang-orang yang suka berbuat gaduh, itu baru dinamakan negeri beretika. Sayangnya, negeri kita yang memiliki budaya dan adab yang luhur ini harus tercoreng dari mata peradaban dunia hanya karena segelintir orang yang berbuat gaduh itu. Memang, sih, kebrutalan dan kekonyolan lebih cepat menular daripada kecerdasan dan logika akal sehat. Barangkali, itu terjadi karena kita setiap hari berkantor di ponsel kita masing-masing. Sibuk mengurusi media sosial, hingga lupa mengurusi identitas negeri. Ini tidak hanya berlaku pada penulis, tapi juga pada kita. Mau mengelak bagaimanapun, kita adalah korban dari keberadaan media sosial yang kalau tidak kita gunakan, kita dianggap tidak ada.

Kita online, maka kita ada.

Ah, memikirkan masa depan negeri layaknya memikirkan anak yang istri saja belum punya tapi anak sudah besar. Karena yang merawat negeri ini lebih muda daripada terciptanya negeri, maka negeri tak dewasa-dewasa, etikanya masih di bawah standar. Bagaimana seseorang bisa merawat anak yang umurnya lebih muda dibanding umur anak tersebut? Sebetulnya bisa. Sebagaimana anak, setua dan secerdas apa pun dia, dia tetap bodoh dibanding perawatnya. Sayangnya, andai kita lebih cerdas merawat negeri, barangkali negeri ini tak brutal dalam menghadapi situasi. Lupakan tentang beberapa orang yang membuat keributan hingga negeri ini menangis dan kejam karena ulah si ribut itu.

Kini, saatnya kita mengajarkan negeri agar kuat adab dan nilai dayanya. Jangan biarkan lemah karena virus digital dan kecerobohan perawat lain yang serakah mengambil jatah makan negeri ini.[]
Labels: 2019, Kebudayaan, Tentang Negeri

Terima Kasih telah membaca Negeri Kenal Malu. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Negeri Kenal Malu"

Back To Top