Yuk Marahan

Datanglah Seperti Hujan. Pergilah seperti api. Lalu lupakan seperti kematian yang tak peduli pada kelahiran. Sedihlah selalu, di suasana demikian akan datang kehampaan yang nantinya membawa diri pada kedamaian. Pedulikan kata-kata orang lain, camkan, bahwa kata-kata orang lain sama saja dengan masa depan yang dapat diraih saat tidur.

Mari perbanyak bertengkar. Yuk marahan pada diri sendiri. Pada suatu ujung dari marah dan tengkar nanti, akan datang persahabatan yang tak mempedulikan status diri sebagai apa. Dan barangkali, manusia tak harus bercita-cita menjadi apa-apa, toh pada akhirnya mati juga. Kalaupun mau bercita-cita, berhenti memikirkannya sebagai sesuatu yang akan terwujud. Cita-cita akan membuat kecewa. Yang ada, jalani, yang lalu ingatkan, agar tak lupa.

Kali ini, biarlah diri mengulas tentang amarah. Yang nanti akan berkaitan dengan kebrutalan, dan pertengkaran yang tak perlu dipikirkan.

Tentang amarah, dia hanya makhluk halus yang datang sekejap lalu menguap dengan cepat. Amarah tak lebihnya saudara nafsu, dengan ibu kandung emosi. Kadang amarah akan selesai saat bertemu nafsu--tentang nafsu di sini, biarlah pembaca yang mengartikan sendiri. Sebab tak ada pengetahuan yang dapat dimengerti kalau tidak mengalaminya sendiri. Betul begitu, sodara?

Di dunia ini, malaikat dilambangkan sebagai sesuatu yang baik, sedang iblis beserta murid-muridnya dilambangkan sebagai suatu kejahatan. Padahal, musuh yang paling tangguh adalah yang berkedok baik. Musuh yang paling sulit dihadapi adalah yang tidak pernah marahan. Ini bukan berarti kebaikan selalu menang, lo, ya. Kebaikan terlalu keras kepala. Tahulah bahwa keras kepala itu belum tentu menang. Justru kebaikan memiliki lapis tertinggi dari kejahatan yang kadang menusuk kejahatan dan kebaikan yang lain. Kalau kejahatan, dia hanya berkubang pada kejahatan saja. Tak perlu dikhawatirkan karena identitasnya jelas. Sedang kebaikan memiliki beribu kedok yang tak bisa manusia pahami.

Ampun... Sepertinya tak akan ada yang mengerti semisal ada yang membaca tulisan ini. Mungkin, tersebab diri lalai membaca buku, belum pernah membaca karya penulis-penulis tersohor kelahiran Indonesia. Kalau ada yang merasa tulisan ini amburadul, mulai saat sadar itulah segera tanamkan di batok kepala, bahwa membaca itu penting.

Terlepas dari diri yang kurang membaca, diri lebih sering mengamati fakta sosial dan alur lain dalam film-film, bahkan anime pun tak luput dari pengamatan. Dari pengamatan itu, diri berkesimpulan, bahwa, ternyata, kejahatan lebih memiliki alur dibanding kebaikan. Bahwa kejahatan, pertengkaran, dan hal kejam lainnya selalu memiliki alur yang dapat dibaca. Sedang kebaikan, sulit sekali ditebak alurnya. Kadang ada orang baik yang melebihi sifat Iblis, yang kalau dibandingkan dengan orang jahat bisa timbul kalimat, "Tak ada yang lebih mengerikan daripada orang baik yang marah-marah."

Pada akhirnya, memilih menjadi si baik atau si jahat, ditentukan oleh kaki dan kepala. Tuhan tak ikut campur di dalamnya. Camkan itu![]
Labels: 2019, Ulasan

Terima Kasih telah membaca Yuk Marahan. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Yuk Marahan"

Back To Top