Budak Pikiran




Ada kalimat menjengkelkan yang saya terima dengan sadar. Kalimat itu berbunyi, “kau itu diperbudak oleh pikiranmu sendiri”. Saya tanya kalimat itu, apakah dirinya tidak diperbudak pikiran? Ternyata dia yakin bahwa dirinya telah memperbudak pikiran, bukan pikiran yang memperbudaknya. Dengan pernyataan seperti itu, apa saya harus mengiyakan atau menyalahkan pikiran yang telah memperbudak ini? Sungguh tidak. Saya senang diperbudak pikiran, daripada saya sendiri yang memperbudak pikiran. Semisal ada yang tertarik apa alasan saya, silakan siapkan obat sakit kepala. 

Walau tentang alasan ini, saya jengkel menggunakannya. Manusia itu terlalu banyak beralasan, hingga kemudian kata-katanya menjadi sampah yang barangkali hanya laku pada api dan tanah. Maka dalam tulisan ini, kurang pantas disebut sebagai alasan, karena saya sendiri tidak berusaha mencari alasan. Daripada mencari alasan, lebih baik mengarang cerita.

Saya bertanya pada diri yang lain, apakah benar saya sedang diperbudak pikrian? Apa karena saya berpikir tidak berdasarkan pemikiran orang lain lantas dianggap sebagai budak pikiran? Rupanya, iya. Duh, diri yang mulai tua ini menjadi pelupa. Tentang berpikir tidak berdasarkan pikiran orang lain, bukankah yang orang lain pikirkan juga berasal dari otak yang Tuhan ciptakan? Barangkali yang menjadi pembeda hanya karena pikirannya tertuliskan dalam buku-buku, hingga oleh para kutu buku, para penggila akademisi dan kelas dikutip sana-sini. Mereka menganggap benar. Walaupun yang mereka kutip salah akan tetap benar, sebab yang salah adalah si penulis buku, mereka hanya mengutip. Dan dengan demikian, mereka telah memperbudak pikirannya sendiri demi pengakuan bahwa yang dikemukakannya ilmiah. (Pemikiran berjenis itulah yang kemudian mencipta slogan, "peneliti boleh salah, tapi tak boleh berbohong"). Apa saya akan suka semisal berada di posisi mereka? Sungguh tidak. Manusia terikat oleh kata-kata, dan kata-kata yang mengikat adalah yang tertulis. Lagipula, saat penulis menuangkan pikirannya bisa saja salah. Apa kesalahan yang tak disadari bisa dijadikan patokan dalam berpikir, demi menyandang predikat bahwa diri telah berhasil memperbudak pikiran sendiri? Benar?

Pikiran itu kebebasan, jadi pantaslah kalau dia memperbudak. Maka sekali lagi saya tulis, saya bahagia menjadi budak pikiran. Ya, ampun, saya mengaku-ngaku seperti orang yang tak terima dianggap dirinya diperbudak pikiran. Hei, tulisan ini tercipta untuk meyakinkan bahwa saya diperbudak secara sadar. Dari kesadaran itulah, akan saya kutip kebenaran sepele yang sering manusia lupa. Bahwa, ada tingkatan makhluk hidup yang Tuhan ciptakan. Pertama, makhluk yang hanya memiliki pikiran, tidak punya nafsu, kita sebut saja Malaikat. Kedua, makhluk yang punya pikiran dan nafsu, ya, kita ini. Terakhir adalah makhluk yang memiliki nafsu semata, sebut saja hewan. Yang hidup tanpa raga tak memiliki nafsu, yang hidup dengan raga memiliki nafsu. Dalam penjelasan sepele itu tentu sudah bisa ditarik kesimpulan, pikiran lebih dekat dengan Tuhan dibanding raga. Lalu saya tanya, diri ini lebih senang diperbudak raga atau tidak? 

Sebetulnya omong-kosong belaka bahwa mereka yang katanya berhasil mengendalikan pikirannya adalah bentuk dari kewarasan. Bukankah mereka lebih dekat pada kedunguan? Yang mengurung pikirannya dengan batasan-batasan orang lain? Pikiran yang seharusnya bisa menjadi raksasa dikunci dalam batok kepala. Sudah dikunci masih diikat lagi. Apa tega?

Barangkali pikiran yang saya lontarkan ke orang lain adalah bentuk kesalahan, maafkanlah. Karena banyak sudut pandang orang banyak yang tidak saya setujui. Seperti tentang neraka yang katanya hanya berisi api. Saya pikir, bisa saja di neraka ada es dan pekarangan bunga untuk orang-orang yang menikmati bara api dan membenci keindahan. Bukankah seharusnya neraka berisi sesuatu yang tidak manusia senangi? Lalu ada yang menyangkal, bahwa nanti Tuhan akan menyamakan persepsi rasa saat di neraka. Lalu diakhiri dengan guyonan, di surga kelak manusia bisa melakukan apa pun yang disenangi. Ya, ampun, pikiran macam apa itu? Kalau bisa melakukan apa saja yang disenangi, bukankah akan berantakan sekali yang namanya surga itu? Memperkosa sana-sini bisa, mabuk, berjudi, disko dan sebagainya bisa dilakukan. Apa akan tenteram surga yang katanya damai itu? 

Menjadi budak pikiran karena berpikir, "jangan-jangan Tuhan adalah waktu itu sendiri", bagi saya tak apa. Karena segala hal digerakkan oleh waktu. Yang lebih tahu masa lalu, masa yang dijalani, dan yang akan datang adalah waktu. Hanya saja, barangkali manusia yang salah menamakan waktu. Kemudian saya adalah budak pikiran karena meyakini Tuhan adalah waktu itu sendiri. Pada saat seluruh makhluk dilenyapkan, waktu akan tetap ada sebagai identitas waktu di mana segala hal dilenyapkan, termasuk waktu itu sendiri. Lagipula mana bisa melenyapkan waktu, sedang saat waktu lenyap masih bisa disebut waktu di saat waktu lenyap? Pusing memikirkan kalimat ini? Dan secara tak langsung saya meyakini, waktu itu abadi. Urusan lain kalau seseorang percaya “Yang fana adalah waktu, kita abadi” seperti judul puisi Supardi Djoko Damono. Bisa dikata bahwa si Supardi adalah orang yang berusaha memberontak pada kenyataan, hingga menyindir waktu sebagai kefanaan. 

Dan hal lain perihal saya yang diperbudak pikiran, telah saya tuangkan dalam bentuk cerita dan tulisan-tulisan.

Pada akhir dari tulisan ini perlu dicatat, saya bukan orang baik. Sebab saat saya memikirkan barangkali ada kebaikan dalam diri ini, saya semakin sadar bahwa diri seperti orang jahat. Silakan, mau sepakat pada orang jahat atau tidak perihal menjadi budak pikiran ini?[]
Labels: 2019, Renungan

Terima Kasih telah membaca Budak Pikiran. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Budak Pikiran"

Back To Top