Cover Demokrasi, Isi Entah-Entah




Sebagaimana pesta, demokrasi hanyalah suasana untuk seru-seruan saja. Kalau sudah berkaitan dengan seru-seruan, segala tingkah yang berlangsung merupakan bagian dari permainan. Bermain ini banyak rupanya, bisa melempar batu, bakar-bakar sesuatu, berteriak-teriak, lari-lari, saling dorong dan akan panjang sekali kalau dituliskan semua. Dari permainan ini, tak ada anehnya ada yang terluka dan tertawa bahagia. Walau, menurut filosofi orang rumah, ketika kau sekarang tertawa bahagia, dalam waktu dekat kau akan menangis. Itulah mengapa, saat saya bermain dengan teman, tertawa sampai terbahak, orang rumah akan bilang, "Iya terus tertawa, nanti akan ada yang menangis", dan betul saja, selang beberapa menit dari kalimat itu, di antara kami ada yang menangis. Dan saat ada yang menangis itulah, permainan selesai.

Lalu demokrasi dari saat pertama kali ada sampai saat ini, memiliki pengertian yang berbeda antara yang tertulis dengan yang terlaksana. Atau bahkan, yang tertulis itu sendiri plinpan makna dengan pembenaran sana-sini. Contoh, seperti peraturan tentang hak memilih dan dipilih. Ditulis, semua rakyat bisa memilih dan dipilih. Karena itulah disebut demokrasi. Namun, saat mengajukan diri untuk dipilih harus dengan persetujuan partai pengusung dan segala pernak-perniknya, yang kemudian kata berhak dipilih itu bermakna, "Hanya pasangan calon yang diusung partailah yang bisa dipilih".

Urusan semacam itu tak akan pernah selesai kalau dicari artinya. Jadi, patutlah mencari siapa yang lebih besar. Sebab yang lebih besar seharusnya yang patut mengalah. Sayangnya, di negeri kita ini, rakyat dianggap lebih besar daripada aparatur negara, jadilah rakyat yang harus mengalah. Tak masalah aparatur negara melanggar yang tertulis, dia akan bebas-bebas saja ketika melawan rakyat, sebab rakyat lebih besar.

Kalau sudah dengan pengertian demikian, pernyataan, "Negara melindungi rakyat" adalah omong-kosong belaka. Sebab, selama ini yang kebanyakan orang artikan negara adalah mereka-mereka yang beridentitas aparatur negara, seperti polisi, presiden, jaksa, DPR dan seterusnya. Dan mereka itu kecil dibanding rakyat. Jadi bagaimana bisa si kecil melindungi si besar? Ngaco saja kerjaannya hukum di tempat kita tinggal ini.

Ketika ada yang mempermasalahkan siapa yang harus menjadi presiden, sebetulnya permasalahan mereka sebagai keseru-seruan saja. Tak perlu diambil serius. Bisa jadi yang menyalonkan diri, antara satu dengan yang lain sudah sepakat di awal-awal serupa, "Hei, nanti kalau kau menang bagi rata dengan saya, ya," lalu yang satunya lagi berkata, "Iya, itu berlaku juga untukmu. Tapi kita tetap harus bertarung biar tak ada yang curiga". Selesai.

Hei, bukankah urusan demokrasi ini sejauh yang saya lihat hanya urusan partai antar partai? Itulah mengapa, saya tak pernah setuju dengan sistem demokrasi. Saya ingin tempat tinggal ini dikuasai seorang raja, itu saja. Yang kalau memang buruk, buruk saja sekalian, tak usah ditutup-tutupi.[]
Labels: 2019, Tentang Negeri

Terima Kasih telah membaca Cover Demokrasi, Isi Entah-Entah. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Cover Demokrasi, Isi Entah-Entah"

Back To Top