Memasuki Pintu Sendiri


Bagi saya, manusia memiliki pintu pengetahuannya masing-masing. Dia bisa terbuka dan tertutup di waktu tertentu. Orang bisa menjadi banyak tahu atau bijaksana, tergantung sejauh mana orang itu memasuki pintu pengetahuannya. Jadi, secara tidak langsung, setiap manusia telah memiliki pintu pengetahuan yang di dalamnya berisi segala hal. Hanya saja, untuk memasuki lebih dalam dan mendapatkan segala hal dari pintu itu sesekali harus meminta bantuan orang lain, memahami pemikiran orang lain, dan seterusnya, hingga dia bisa memasuki pintunya sendiri tanpa tersendat-sendat.

Bisa dikata, mereka yang katanya mencari pengetahuan, telah salah mengartikan diri sebagai wadah kosong yang perlu diisi. Padahal, pengetahuan itu sudah ada dalam diri setiap manusia, tinggal sejauh apa manusia itu bisa memasuki pintu pengetahuannya. Kalau malas berlari, hanya pengetahuan yang ada selangkah dari balik pintu itulah yang didapat. Pengetahuan selangkah yang barangkali hanya berisi hal-hal dasar untuk menjalani kehidupan normal.

Kadang, pengetahuan yang sudah ada itu terasa seperti dejavu, insting, atau hal familiar yang dirasa-rasa, kok seperti pernah tahu, seperti pernah mendengar. Secara tidak langsung, seseorang akan sepakat dengan pemikiran orang lain kalau dirinya pernah membuka pintu yang serupa dengan orang yang disepakati itu.

Untuk membuka pintu pengetahuan diri sendiri cukup dengan jalan kesunyian sebetulnya. Atau, nyaris seperti orang yang sedang melamun dan berpikir. Sebagian besar orang yang sedang dalam keadaan berpikir, dia tidak merasakan keberadaan sekitarnya, karena dia sedang sunyi, bunyi yang sembunyi.

Manusia itu ibarat bumi, karena asalnya memang tak jauh dari bumi. Sebagaimana bumi, sumber kekuatannya ada dalam dirinya sendiri. Kekuatan itu akan keluar kalau digali, terus digali hingga keluarlah minyak, keluarlah emas, dan sebagainya. Dalam menggali ini, menurut orang di kampung saya, ada filosofinya sendiri. Kalau kau menggali tanah agar mendapatkan air, tapi kau berisik dalam menggalinya, maka air itu akan semakin dalam dan sulit ditemukan. Sebaliknya, kalau kau menggalinya diam-diam, tidak butuh kedalaman berpuluh meter, enam atau lima meter sudah muncul sumber air.

Menulis seperti ini pun, sebetulnya adalah usaha saya untuk membuka pintu yang ada dalam diri. Karena, bagaimana pun, menulis adalah kegiatan berpikir. Dan saya berpikir, bagaimana caranya membuat pembaca yakin dengan pemahaman ini tanpa harus menerimanya sebagai kebenaran, cukup sebagai referensi untuk memahami pengetahuan masing-masing. Coba rasakan, barangkali ada kemiripan, bahwa kau, kau dan kau memiliki pintu pengetahuan sendiri yang tak disadari.[]
Labels: 2019, Renungan

Terima Kasih telah membaca Memasuki Pintu Sendiri. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Memasuki Pintu Sendiri"

Back To Top