Bodoh bukan Larangan


Secara sadar, manusia cenderung melakukan hal yang serupa berulang-ulang. Sebagian dari yang berulang-ulang menjenuhkan, sebagian yang lain menyenangkan. Yang menjenuhkan menjadi musuh, yang menyenangkan menjadi teman. Musuh dan teman di sini akan bertengkar memperebutkan jati diri, menganggap yang satu lebih pantas menjadi karakter dan begitupun sebaliknya. 

Dominasi pada jiwa, cenderung ke yang membawa masalah atau yang menjauhi masalah? Ah, ini tak usah kalian jawab. Karena ini tulisan kodok, jadi penulis bebas lompat pada pembahasan apa saja. 

“Hak orang lain menjadi bodoh. Hei, buat apa kau mengajari kami? Buat apa menulis panjang lebar tentang penjelasan bermacam hal seperti itu? Ini negara demokrasi yang menjunjung kebebasan orang lain. Kami ingin bodoh, mengapa dipaksa pintar?” 

Hei, Bro! Siapa pula yang memaksa kau menjadi pintar? Yang memaksa kau itu orang bodoh. Jadi bertemanlah kau dengan orang yang memaksa itu, biar sama-sama bodohnya. Apa pula mengeluarkan urat leher untuk suatu hal yang menutupi kebodohan kau. Orang yang pintar mana mau memaksa kau jadi pintar? Kau ini tolol mengajak orang, ya? 

Barangkali, kau ini muak pada diri sendiri. Ingin membanting tubuh pada tembok, biar bekas yang menempel menjadi sisa peradaban? Dengan demikian, kebodohan kau bisa masuk kategori abadi, sebab ada orang yang selalu tertarik membahas masa lalu, walau itu hal konyol dan membawa bencana. Mengingat ada orang semacam ini, penulis ingin sumpah serapah. Padahal masa lalu itu hal yang buram. Dan begitu payahnya seseorang yang mengedepankan masa lalu, lalu membahasnya dari segala sudut. Jadilah skrip-skrip dan sisa peninggalan yang ada dijadikan sebagai nabi-nabi dan tuhan demi mempertahankan identitas diri sebagai sejarawan. Dan kau tentu tahu, seorang sejarawan itu lebih pantas diberi gelar pemihak masa lalu. 

Menulis seharusnya membawa kesenangan. Semisal ada yang membaca tulisan ini tapi merasa marah dan jengkel, sungguh ini bukan tulisan. Berarti konsep gurauan penulis dan pembaca berbeda. Atau jangan-jangan, pembaca adalah orang yang suka kalimat, “Saya suka hal berat tapi disampaikan dengan ringan”. Kalau pembaca memiliki patokan berpikir seperti itu, maka tak perlu makan nasi sebagai kebutuhan pokok, karena itu suatu yang berat. Kalau tetap mau makan, makanlah versi buburnya saja, dengan demikian nyambung sudah bahwa pembaca suka hal yang berat tapi ringan. Ya, paling tidak ringan dalam mengunyahnya. Tapi, apa sama rasanya?[]
Labels: 2019, Abstrak

Terima Kasih telah membaca Bodoh bukan Larangan. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Bodoh bukan Larangan"

Back To Top