Kalau Pelit Bisa, Mengapa Harus Dermawan?


Apa aku orang yang terlalu pelit? 

Sebagian orang meyakini bahwa pelit itu ada dua, pelit terhadap diri sendiri, dan pelit terhadap orang lain. Aku belum bisa memastikan kata pelit ini berantonim dermawan atau suka memberi. Satu kata ini cukup rumit sebetulnya. Pelit bagaimana yang orang-orang maksud? Kalau kata pelit dinisbatkan pada seseorang yang tidak mau memberikan kepemilikannya pada orang lain, berarti tidak ada istilah “pelit pada diri sendiri”,  sebab sesuatunya sudah melekat pada diri sendiri. Atau, jika pelit dimaksudkan dengan kepatutan memberi, maka tidak ada istilah “pelit pada orang lain”, sebab memang tidak patut diberikan.  Sebetulnya pelit yang bagaimana hingga kau, kau dan kau dengan mudahnya menunjuk si itu pelit dan si ini tidak pelit? Kalau tidak bisa menjawab, jangan sembarangan mengidentifikasikan seseorang pelit atau tidak. 

Karena terlanjur membahas pelit, maka biarkan aku menyelesaikannya hingga kalimat terakhir dari tulisan ini. 

Pada mayoritasnya, pemahaman pelit ini selalu dikaitkan dengan harta. Definisi harta itu ya kepemilikan. Tapi sebagian besar orang membayangkan harta itu uang, atau segala yang bisa diuangkan itu harta. Dan tahulah, bahwa uang itu alat ukur harga. Jadi, semisal ada yang punya pacar, lalu pacarnya diminta orang lain tapi tidak diberikan, berarti bukan pelit. Catat; tidak pelit selama pacarnya dianggap bukan harta. (Bersyukurlah kalau kau diberikan pada orang lain, berarti kau dianggap berharga, dan pacar kau bisa disebut sebagai seorang yang dermawan) 

Atau sebetulnya, pelit ini lebih pada ego. Secara pemahaman, setelah kuamati beberapa teman atau orang lain dalam keseharian, pelit ini bisa diidentifikasi dari cara pandang. Ketika seseorang memuja dirinya sendiri, kemungkinan besar mengidap pelit pada orang lain. Ketika menganggap dirinya bukan apa-apa, kemungkinan besar mengidap pelit pada diri sendiri. Bagaimana aku bisa membuat kesimpulan tersebut? Akan aku deskripsikan dalam satu paragraf berikut. 

Aku seringkali mendapati manusia yang menganggap dirinya paling ada dibandingkan dengan orang lain. Manusia itu tidak peduli orang memandangnya apa atau bagaimana, selama tidak kenal, bukan teman, atau sebetulnya teman, tapi teman yang bukan apa-apa baginya. Keseharian manusia jenis ini memamerkan keberadaan diri, seakan berteriak inilah aku. Manusia jenis ini susah untuk membagikan kepemilikannya pada orang lain. Tampak sombong sebetulnya, walau sombong dan pelit ini beda tipis. Atau sebetulnya, kebanyakan orang tidak bisa membedakan mana yang penting dan mana yang tidak penting. Aku sendiri kadang bingung membedakan penting tidaknya suatu tindakan. Seperti, diri yang pergi ke suatu tempat memilih berjalan kaki dibanding memesan Ojek Online. Padahal uang ada, malah lebih dari cukup untuk perjalanan bolak-balik dengan ojek online. Tapi saat ada seseorang meminta uang di tengah jalan, uang yang bisa untuk bolak-balik dengan memesan ojek online itu mendarat begitu saja, tanpa pikir panjang. Itu terkesan bodoh sebetulnya, dan orang yang mengetahui cerita tersebut akan manganggap aku teramat pelit pada diri sendiri. Uang untuk naik ojek online disimpan, tapi dikeluarkan saat bertemu dengan orang yang barangkali berprofesi menipu. Ah, masa bodoh dengan anggapan orang. Yang jelas, setiap orang memiliki prinsipnya masing-masing. Kalau orang lebih suka berjalan mau apa, heh? 

Pelit tidaknya seseorang seharusnya diukur dari tingkat kegunaannya. Seseorang jarang memakan makanan yang enak-enak padahal banyak uangnya, bukan berarti dia pelit pada diri sendiri. Bisa jadi orang tersebut mengukur selera. Kalau seleranya berjalan kaki, jangan dipaksa naik taksi. Kalau seleranya makan di warteg, jangan paksa makan di restoran. Begitupun dengan orang yang tidak memberi uang pada pengamen, atau memberi uang tapi dengan nilai rendah, lalu dianggap pelit. Orang jenis ini barangkali tahu sifat pengamen yang benar-benar kesusahan, dengan pengamen yang mencari susah. 

Aku berani menjamin bahwa orang yang menyebut “si Mad pelit pada dirinya sendiri” tersebab orang itu pelit pada orang lain. 

Aku berani menjamin bahwa orang yang menyebut “si Mad pelit pada orang lain” tersebab orang itu pelit pada dirinya sendiri. 

Dan aku berani menjamin bahwa manusia yang menyebut “orang lain pelit” adalah manusia yang mengumbar kepelitannya sendiri.[]
Labels: 2019, Renungan

Terima Kasih telah membaca Kalau Pelit Bisa, Mengapa Harus Dermawan?. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Kalau Pelit Bisa, Mengapa Harus Dermawan?"

Back To Top