Rupanya Aku Terlalu Pintar

Kecerdasan, sebetulnya diukur dari apa?

Ada orang yang untuk memahami sesuatu, harus mempelajari dasar-dasarnya terlebih dahulu, kemudian akan sampai pada pemahaman itu. Barangkali, ini sering terjadi dalam proses belajar. Ada pula orang yang tidak peduli dengan pelajaran, tapi saat dihadapkan dengan pelajaran akan paham tanpa perlu ribet mempelajarinya. Kemudian ada orang yang tidak jauh beda dengan orang gila, tapi dia tidak gila.

Lalu aku masuk ke kategori yang mana? Entah. Aku bingung mengatakan diri ini pintar, cerdas atau jenius. Barangkali tidak masuk dalam kategori ketiga hal tersebut. Tapi, bukankah sebetulnya ada tiga jenis manusia di dunia ini? Mereka yang kalau tidak pintar ya cerdas, kalau tidak cerdas ya jenius. Lalu orang bodoh? Secara teori bodoh itu tidak ada, yang ada adalah kemalasan untuk belajar. Burung yang polos saja bisa mengucapkan "selamat pagi" karena diajari mengucapkan "selamat pagi". Burung apa namanya? Ah, aku lupa.

Rasa iri kadang-kadang menjangkiti pikiran saat mendapati tulisan bagus, karya bagus dan hal lain yang tak pernah terpikirkan di batok kepala. Dan anehnya, diri mengiyakan karena barangkali, dalam tidur yang lelap pernah memikirkan hal yang serupa. Eh, mana ada orang tidur sambil berpikir? Sepertinya ada, dan memang ada, seseorang yang terlalu dalam pikirannya hingga tertanam dalam tidur. Tapi, bukankah tidur itu proses berhentinya berpikir? Tunggu dulu, baterai yang penggunaanya melebihi kapasitas akan langsung tak memiliki daya, mungkin pikiran yang melebihi pikiran akan larut dalam kepala yang disebut tubuh tak berdaya.

Aku pernah mengira diri berteori dalam tidur. Teorinya tentang tidur pula. Jadi, dalam pemikiran di alam mimpi tersebut menyatakan, bahwa manusia hidup dalam tidur yang berlapis-lapis. Di tingkatan pertama, diri tidur, dalam tidur itu bermimpi, dan dalam mimpi itu bermimpi, di mimpinya mimpi bermimpi, begitu seterusnya hingga ditaksir dalam sekali tidur diri telah hidup ribuan tahun. Jadi, diri yang tidur tersebut akan bangun ketika di mimpinya mimpi, mimpinya lagi, dan mimpi yang paling ujung mati, akan terbangun di mimpi yang satunya, dan akan terbangun ketika di mimpi yang satunya mati, begitu seterusnya hingga mati dalam mimpi di tidur pertama. Ah, tentu aku sendiri pusing menjelaskannya. Kalau ada yang tak mengerti wajar saja, sebab saat bangun dan menyadari teori tersebut pun aku tak mengerti. Namun saat dianalogikan dengan dua cermin yang berhadap-hadapan, barangkali teori yang dimaksud seperti itu. Setelah menganalogikan hal tersebut, aku ingat dalam teori tersebut ada dua jalan, bahwa manusia yang tertidur sedang melanjutkan kehidupannya di dalam mimpi, baru saat seseorang yang di dalam mimpi tersebut tidur, manusia akan bangun menjalani kehidupan di luar mimpi. Jadi, manusia sering lupa terhadap sesuatu yang dimimpikan adalah cara agar manusia bisa membedakan kehidupan yang satu dengan yang lainnya. Bodohnya aku meyakini, bahwa lupa pada mimpi adalah jalan untuk membedakan dunia nyata dengan dunia mimpi. Walau kadang saat dalam mimpi aku yakin itu kenyataan, dan dalam kenyataan aku meyakini sebagai mimpi. Jadi, berpikir dalam mimpi ada, kan?

Jangan bergurau dengan teori, karena kalau tak didukung akan disebut gila. Gurauan macam apa yang kadang membuat orang lain menyebut aku gila? Gurauan yang tidak orang lain pikirkan. Maksudku, guraun yang barangkali belum dipikirkan orang yang menyebut aku gila. Ketika seseorang bisa mengenang dengan memotret, aku memilih mengenang dengan melihat sekilas. Jika orang lain suka merepotkan, maka aku memilih suka direpotkan. Atau jangan-jangan, aku tak merepotkan orang lain karena tahu bagaimana susahnya direpotkan? Aku berusaha tak mengkhianati orang lain karena pernah merasakan sesaknya dikhianati. Ampun, malah curhat. Yang terkesan curhat ini masuk ke kategori pasaran sebetulnya, jadi tak bisa dikatakan pintar, cerdas atau pun jenius. Atau jangan-jangan aku ini terlalu pintar? Sombong sekali.... Iya sombong, dan memang pantas dikatakan sombong kalau definisi sombong adalah mengakui kepemilikan yang tidak pernah dimiliki.[]
Labels: 2019, Renungan

Terima Kasih telah membaca Rupanya Aku Terlalu Pintar. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Rupanya Aku Terlalu Pintar"

Back To Top