Kebodohan Pengarang


Kali ini saya akan mengulas diri saya sendiri, yang katanya, keras kepala mengakui dirinya sebagai pengarang. Iya, selama ini agar terus bisa mengarang, saya sebut diri sebagai pengarang biar saat tidak mengarang akan merasa malu pada sebutan tersebut. Itu penyematan yang tak begitu kuat sebetulnya, sebab di lain waktu saya bisa saja menjadi pengarang yang mengarang satu tahun sekali.

Menjadi pengarang yang jarang mengarang itu cukup merepotkan. Setiap kembali mengarang saya merasa seperti pemula. Di sanalah saya sering menggerutu, baru tahu rumitnya menyelesaikan cerita. Tapi saat bisa menyelesaikan karangan, dengan bangga saya bisa berucap, "Mengarang itu mudah, namanya juga mengarang-ngarang, jadi tinggal karang saja sesukanya."

Iya, mengarang tinggal mengarang saja. Padahal setiap selesai mengarang lupa sesuatu yang telah dikarang tentang apa. Ini tidak terjadi pada satu atau dua karangan, hampir di setiap cerita yang saya karang, saya lupa telah menceritakan tentang apa. Kalau sudah demikian, baru saya berucap ampun-ampun, menyesal karena menganggap karangan ya mengarang saja.

Setelah menyesal, saya nasihati diri dengan mengatakan, "Tulislah, lalu lupakan bahwa kamu telah menulis." Ini terkesan tak bertanggung jawab sekali sebetulnya. Ya, namanya juga orang yang sedang membela diri sendiri.

Setelah kembali menjadi pengarang, dan dihadapkan dengan cerita yang berharap bisa diterbitkan, di sanalah kembali diri merasa seperti orang tua yang salah zaman. Sekarang ini zamannya kebahagiaan, jadi saat mengarang tentang kesedihan tapi tidak dibungkus dengan kelucuan, karangan hanya akan menjadi sampah. Dan pada akhirnya akan disebut karya yang berat untuk dibaca. Padahal tidak saya letakkan beban berat di cerita-cerita tersebut, jarang saya menulis kata batu, besi, atau hal berat lainnya dalam karangan (besi dan batu bukan hal berat, dia benda keras). Tapi kok masih dianggap berat saja. Barangkali karena saya selalu menjadi pemula dalam mengarang. Ditambah, saat mengarang saya selalu terbawa emosi yang mencoba mencipta dunianya sendiri. Kalau ceritanya tentang kebrutalan dan sindiran terhadap sosial-politik, di sanalah saya lupa untuk mengikuti kaidah penulisan sastra. Seharusnya, pengarang itu menunjukkan tanpa memberi tahu. Karena siapapun tentu tak mau dianggap bodoh (baca: dianggap tidak tahu). Iya, sebagian besar orang merasa dirinya telah tahu, sebagiannya lagi merasa bodoh karena terlalu tunduk pada pengetahuan.

Saya sadari telah mengarang hal yang berbau ceramah. Maafkan saya, wahai diri yang katanya pengarang. Baik, kali ini saya telah memaafkan diri sendiri, tapi belum bisa menerimanya sebagai orang yang khilaf. Jelas itu karena keteledoran. Seharusnya tulis besar-besar huruf dari kalimat, "SEMUA PEMBACA ADALAH ORANG YANG LEBIH TAHU" di dahi, biar saat bercermin sadar. Tapi sayang, saya kan jarang bercermin.

Akhirnya, kembali saya bisa menulis perasaan di sini. Semoga di lain kesempatan bisa menulis perasaan yang berbau romansa. Biar saat saya membukanya lagi, sadar, diri terlalu lebay dan sok ketua-tuaan. Tapi tak apalah dianggap sok ketua-tuaan, biar saat tua sungguhan nanti bisa menjadi orang muda yang hakiki.[]
Labels: 2019, Ulasan

Terima Kasih telah membaca Kebodohan Pengarang. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Kebodohan Pengarang"

Back To Top