Menuliskan Kemalasan



Ketenangan, barangkali hanya ilusi semata. Namun terkadang butuh harga untuk menggapainya. Dan untuk harga ini, dia tak main-main riilnya. Lebih nyata dari sekadar sakit yang perihnya berbulan-bulan. Ah, lupakan tentang sakit, dia hanya akan menjadi penyakit. Baiknya, selesaikan karangan yang sekarang. Kalau karangan yang sekarang tak lekas selesai pula, perlu dipertanyakan harga ketenangan yang telah mahal dibayar. Baik, kita mulai dari kisah remeh yang ada di bawah telapak kaki. 

Kalaupun tak bisa menulis, lupakan yang tak bisa itu. Kau kira mudah menulis yang bukan-bukan? Kau kira mudah menulis hal yang berbau angan-angan? Jangan salah, justru mengarang itu mudah, yang kadang membuatnya tampak jelimet cara pandang dan malasnya. 

Karena tak ada yang dibaca, jadinya menulis, hanya kekosongan yang ditulis. Sia-sia belaka. Mengarang tak becus, apalagi membaca. Malam ini, mingguannya sendirian. Tidak seperti kemarin-kemarin. Ah, ya ampun, nulisnya sampai ke mana-mana. Memang begitulah yang hidup sendirian, dia lebih banyak ngelantur daripada jelasnya. Jelasnya, bagaimana? Entah. 

Penyelesaian, yang perlu dipikirkan adalah tentang tesis, karya tulis lainnya, dan pedoman untuk ikut meramaikan peradaban tulis di muka bumi ini. Semoga, nanti bisa menjadi karya yang bijaksana. Yang bisa memberi pemahaman pada orang tanpa perlu mengeluarkan biaya. Ah, karya belum jadi mau disemogakan segala. 

Ini masalah ketenangan, walau nulisnya ngalor-ngidul, yang penting ketenangan. Selain ketenangan, malu sebetulnya, duduk sendiri tanpa melakukan apa pun di tempat yang sama sekali berbeda. Di tempat yang seharusnya orang duduk berdua dengan seseorang, baik itu teman atau apalah. 

Baiknya segera menyingkir, sebelum hal yang berbau kehampaan dan ilusi lain menghampiri. Ah, besok hari minggu. Waktunya menunggu anime. Ya, ampun. Lupakan dulu masalah lainnya, yang ada jalani, yang lalu biarkan terjadi. Bukankah kau hidup karena masa lalu? Bukankah manusia bisa tetap hidup karena dia memiliki masa lalu? Masa lalu, biarlah ada sebagaimana biasa. Hari ini, biarlah terjadi sebagaimana kejadian yang luar biasa lainnya. 

Sebetulnya, berdiam diri di tempat entah berantah ini hanya untuk menghilangkan kebosanan. Kebosanan tentang hidup. Kebosanan tentang hal yang sungguh malas sekali untuk ditulis. Kalau bisa, ingin lari dari segalanya. Kalau bisa, ingin pergi dari segalanya. Dari Tuhan? Untuk yang satu ini tidak. Aku malah ingin mendekat. Tapi patut kau tahu, kalian, atau kita sekalian, harus tahu bahwa yang terpenting adalah kembali pada yang memberi. Itu saja. 

Ah, seperti berceramah pada omong-kosong semata. Ayolah selesaikan sekarang, lalu pulang dengan tenang. Kalaupun tak mau pulang, segeralah istirahat dari kata-kata hancur yang tak ditemukan ujung pemikirannya ini. Selesaikan. Sekarang. Ayo, mulai. Aih, belum dimulai juga. Baiklah, selesai.[*]

Tanpa kejelasan, di kafe Waris, 16 Februari 2019. 



*Tulisan ini baru saya temukan pada hari Kamis, 1 Agustus 2019. Betul-betul tulisan ngalor-ngidul, ditulis saat kehampaan lebih utuh dari cita-cita, ditulis saat sebagian pemuda asyik jalan berdua, ditulis saat meja yang luas hanya berisi setumpuk keraguan dan selembar menu pembisik perut.
Labels: 2019, Cara

Terima Kasih telah membaca Menuliskan Kemalasan. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Menuliskan Kemalasan"

Back To Top