Kilas Balik Perjalanan Menulis

Ada geram gila, sekaligus takut dalam menulis. Takut itu, ada di saat pertama kali mengarang cerita. Takut tidak bagus, tidak ada pembaca, tidak selesai. Jelas, rasa takut itu berlaku untuk pemula. Semisal sekarang mengarang disertai rasa takut, barangkali aku yang pemula hidup kembali.

Tentang kata menulis, istilah itu  kupahami sebagai coretan sejak aku bisa mengingat tentang nama-nama orang. Menulis, seperti coret, menggambar. Begitu pemahaman di masa itu, barangkali karena kakak tertua sering mengajariku menggambar huruf. Lepas dari menulis, aku tidak ingat pernah disuguhi buku, kecuali waktu kelas 4 SD, kakak sepupu yang baru pulang dari Jogja, membawa buku karangannya yang berjudul... aku lupa judulnya apa. Saat itulah aku yang baru belajar mengeja tulisan, merasakan hal lain. Seperti ada dunia yang tak pernah terjamah oleh otak. Mungkin dari rasa yang demikianlah, setiap menemukan buku pelajaran bahasa Indonesia, yang pertama kucari adalah lembar yang berisi cerita.

Perjalanan mengenal cerita pendek tersebut berjalan singkat. Selama SD sampai SMP, aku hanya menjadi pembaca cerita yang ada di buku-buku pelajaran bahasa Indonesia. Barulah saat berada di Pesantren, mengenal cerita pendek tidak hanya membacanya, tapi menuliskannya juga. Seperti yang tertulis sebelumnya, ada rasa takut saat pertama kali mengarang. Kemudian rasa takut itu berkurang saat tangan dan otak mulai singkron menyelesaikan karangan. Dalam artian, memindahkan kata-kata dari kepala ke tangan sudah terbiasa, saat itulah rasa takut berkurang. Malah, kadang menjadi candu. Saat diri tak mengarang satu cerita dalam seminggu, ada rasa aneh. Pikiran tertekan. Kemudian ada bisikan, barangkali diri sedang gila karena tak menulis apa-apa dalam seminggu.

Kalau diingat-ingat, sebetulnya apa yang kuharapkan dari mengarang? Apa aku pernah berkeinginan menjadi pengarang yang dikenal namanya? Atau, jangan-jangan karena merasa iri pada kakak sepupu yang telah menerbitkan beberapa karangan? Tapi tidak, pertanyaan-pertanyaan itu terksesan dingin. Aku mengarang karena ada rasa senang di sana. Ada rasa menemukan duniaku sendiri dalam mengarang. Jadi saat selesai mengarang, kepala seperti lepas dari beban berat. Itulah mengapa, kadang aku lupa telah mengarang cerita. Yang penting kepala sudah sedikit ringan, malasah yang tertulis itu bisa dimengerti atau tidak, kutinggalkan. Walau, ada kalanya kulihat kembali untuk diperbaiki. Apanya yang diperbaiki? Entah, kadang ada rasa tak tega untuk menghapus atau mengurangi kalimatnya. Kadang pula, sadis menghapus keseluruhan karena merasa... aneh.

Selama enam tahun mengarang, (enam tahun mengarang yang dimaksud, bukan berarti aku mengarang terus-menerus sampai enam tahun, bisa kriting ini jari), selama enam tahun mengarang, cerpen yang kukirim ke media cetak tak pernah berhasil dimuat. Jelas, aku tak kecewa pada media cetak yang kukirimi karya. Aku kecewa pada karanganku sendiri. Memaki, kenapa kamu tak bagus-bagus, heh? Seharusnya kumarahi diri sendiri yang tak bisa mengarang cerita dengan baik. Atau, jangan-jangan, aku salah menuliskan alamat media cetaknya? Pertanyaan ini muncul saat cerpen yang berjudul Darah, dicetak media lokal Radar Madura. Yang mengirimkan ke sana siapa? Tentu bukan aku. Sudah kubilang, cerpen yang kukirim ke media cetak tak pernah dimuat. Yang mengirimkan cerpen tersebut Kak Fikri. Aku bertanya, bagaimana cara mengirimnya? Dikirim ke alamat apa? Kok kukirim sendiri tak pernah lolos? Dia bilang, "kirim ya kirim saja, Ing". Waktu itu aku dipanggil "Ing" atau kadang kalau sedang jengkel, dia memanggil dengan sebutan "Toing". Masalah nama lewat sajalah, itu suka-suka dia saja.

Sampai saat ini, apakah aku masih mengarang? Iya. Sampai saat ini, apakah aku masih mengirimkan karya ke salah satu media cetak? Iya. Lalu mana cerita terbaruku? Nah ini masalahnya, aku seperti memensiunkan diri dari karang-mengarang. Apa karena tak ada waktu? Waktu banyak sekali. Apa kehabisan ide? Ide banyak sekali. Lalu apa? Aku sedang menemukan kesenangan yang lain. Sudah kubilang di awal, aku mengarang karena aku menemukan kesenangan di sana. Tersebab kesenangan itu sekarang mulai berkurang, dan kebetulan ada kesenangan lain yang mewakili, aku mulai tak menyempatkan diri dalam mengarang. Ditambah, kurasa, kata-kataku mulai tumpul. Cara menyusun ceritaku mulai amburadul. Sebut saja, cerita yang kukarang susah sekali untuk dimengerti. Barangkali karena cara berpikirku sudah berbeda. Apa penyebabnya? Satu. Merasa bodoh. Nanti, kalau sudah merasa pintar, aku akan mengarang, mungkin. Lah iya, kan memang begitu. Orang mengarang atau menulis itu karena dia merasa tahu terhadap sesuatu yang ditulisnya. Lalu apa kesenanganku saat ini? Mengamati. Iya, mengamati kejadian-kejadian. Itu membuat senang. Nantilah, kalau kesenangan mengamati mulai lusuh, aku akan kembali mengarang. Mengarang untuk siapa? Untuk diriku sendiri. Jelas, mau mengarang untuk siapa? Selama ini yang kukarang belum tentu ada yang membacanya. Itulah mengapa saat menyetak buku, saat kutawarkan ke teman barangkali mau membelinya tapi tak tertarik membeli, kuberikan itu buku secara percuma dengan syarat, dia mau membayarnya dengan cara memba isi dari buku tersebut sampai tuntas. Kalau tidak dibaca? Tentu dia punya hutang, dan kutunggu hutang itu terbayar di lain waktu.

Jadi, yang kudapat dari pengalaman mengarang, hanyalah kesenangan belaka. Perkara bisa dipahami orang, bisa dibaca orang lain, itu menambah kesenangan yang lain pula. Apa aku butuh bayaran dari mengarang? No! Justru aku ingin membayarnya kalau bisa. Jadi tak heran semisal uang yang seharusnya kugunakan untuk membayar semester kuliah, kugunakan untuk menyetak buku.

Saat memegang buku sendiri, ada senyum yang tak kusadari. Adakah susah senang dalam menulis? Susah? Tentu ada, yaitu ketika selesai mengarang, tapi filenya hilang. Selesai menulis, buku yang tertulis kena sobek, kena hujan, dan parahnya, diambil teman. Senangnya? Kalau ikut event dengan niat iseng-iseng, tapi menjadi juara. Marahnya? Kalau bersungguh-sungguh ikut event, tapi tidak lolos seleksi. Geram sampai berhari-hari? Eh...  lupakan.[*]

*Tulisan ini hanya keluhan. Akan kubaca di lain kesempatan.
Apa kabar kamu yang sedang membacanya hari ini?
Apa sudah kembali senang mengarang? 
Labels: 2019

Terima Kasih telah membaca Kilas Balik Perjalanan Menulis. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Kilas Balik Perjalanan Menulis"

Back To Top