Rusuh di Negeri Sendiri



Ada kalimat yang begitu merasuk di hati, itu berarti yang punya kalimat menyampaikannya dari hati. Ada kalimat yang membuat seseorang penuh amarah, itu berarti yang menyampaikan kalimat dipenuhi amarah. Itu saja rumusnya. Semisal tulisan ini membuat mual-mual, berarti yang menulis juga sedang mual-mual. Bukan orang hamil muda saja yang sering mual-mual, pemuda pun sama. Sering mual ketika mendapati kejanggalan yang diulang-ulang.

Negeri ini tidak butuh pembebas dari manusia yang ikut-ikutan. Yang ketika pemegang pengeras suara menunjuk atas dengan menyatakan, "ini bawah", lalu semua mengikuti, seraya menunjuk langit lalu mengatakan, "ini bawah". Lalu si pemegang pengeras suara menunjuk bumi dan berkata, "ini atas", orang yang mendengarkan kalimatnya manggut-manggut mengikuti, "ini atas" seraya menunjuk tanah. Diteruskan dengan kalimat, "di bawah langit ini" seraya nenunjuk dan menyentakkan tanah "kami menegakkan keadilan". Sungguh, yang menegakkan keadilan itu berlaku bagi para hakim. Kalau mau berbicara keadilan, sejak kapan kita-kita ini merasa adil? Membeli nasi goreng di pinggir jalan yang sekali goreng dibagi menjadi lima piring pun kadang merasa tak adil dengan membatin, "yang itu lebih banyak irisan ayamnya, yang ini terlalu banyak, yang ini sedikit". Lalu pukullah si penjual nasi goreng itu kalau memang merasa keadilan perlu ditegakkan. Ditambah, akan lebih menjengkelkan kalau si penjual nasi goreng mengatakan, "ampun, nak, saya ini menjual nasi goreng demi sesuap nasi". Kalau begitu, mengapa nasi gorengnya dijual?

Tentu, yang kita ketahui saat ini tidak akan pernah sama dengan pengetahuan orang lain. Karena sudah paham yang demikian itulah, seharusnya mengerti. Berpengertian itu sudah cukup untuk mendamaikan segala perkara. "Manusia tempatnya perbedaan, setiap isi kepalanya tidak ada yang sama." Lah iya, kalau sudah paham begitu mengapa ngotot merasa ada yang salah dari orang lain, ada yang keliru dari putusan orang yang kalian-kalian sendiri memilihnya sebagai wakil? Masih ingin mengaku paling waras? Baik, kalau definisi kewarasan disandarkan pada logika, lalu buat apa hal yang berbau perasaan digugat segala? Sungguh, orang yang merasa dirinya terancam, merasa tidak aman atas peraturan, barangkali karena orang tersebut sering melakukan hal yang bertentangan dengan yang diatur. Tidak setuju dengan hukuman mati bagi orang yang korupsi, berarti dia takut dirinya kelak dihukum mati karena ketahuan korupsi.

Baik, saya amini kalimat Einstein yang kurang lebih seperti ini, "Hakikatku, adalah apa yang aku pikirkan." Kalau kalian melihat mahasiswa berambut panjang lalu dianggap barbar, sudah jelaslah kalian orang seperti apa.

Demo, tindakan anarki mengatasnamakan ketidakadilan terhadap hak asasi manusia. Berteriak diri pancasila, berdaulat, tapi lupa sedang berdiri di negeri siapa. Hei, ini bukan cacian, ini sekadar sindiran pada penulis biar dia tidak gampang mengakui dirinya berpancasila dan bernegara, biar saat melakukan kekacauan dan tak sejalan dengan pemerintah, bisa bebas mengakui diri sebagai orang yang tak ikut campur terhadap jati diri. Wong sejak awal tidak jelas jati diri memihak pada pancasila, mengapa pula dipermasalahkan saat tak pro terhadap pemerintahan.

Pergerakan, turun ke jalan dan berteriak-teriak, lalu dijadikan status WA, Instagram, Twiter, FB, Youtube, Tiktok, Telegram, (apalagi? Ampun, jadi terkesan mengiklankan media sosial.) Apa pergerakan harus didokumentasikan? Iya, tidak. Terserah. Tapi mari pikir bersama-sama. Orang yang sedang sungguh-sungguh menghitung uang receh, apakah masih sempat memotret dirinya? Ini tidak keseluruhan, sebagian, sebagian pasti akan lupa sudah sampai mana dirinya menghitung. Apa tulisan ini terlalu nyinyir? Iya, ini sedang menyinyiri penulis sendiri yang tidak tahu menahu perihal pergerakan mereka. Mereka siapa yang dimaksud? Para pendemo gedung DPR? Gedung kok didemo. Sungguh, pergerakan yang tidak didukung TNI dan polisi, akan percuma belaka. Polisi, cari definisinya di mana pun, kurang lebih akan tertulis, "polisi itu aparatur negara yang bertugas menjaga keamanan dan mengayomi masyarakat", semisal ada polisi yang memukul dan membuat tidak aman, jelas menyalahi definisi. Tapi, kalau segala sesuatu didasarkan pada definisi, lebih baik kita-kita ini diam. Setiap yang kita lakukan salah, sedari bernapas pun salah. "Bernapas itu menghirup oksigen", tapi yang kita hirup kadang asap knalpot, asap rokok, asap kentut, dan asap lainnya yang kadar oksigennya sedikit. Baik, kita tidak bisa lepas dari definisi, tapi jangan sesatkan definisi itu sendiri.

Harapan orang lemah ini, sedari duduk di bangku SMP sampai sering bolos kuliah, hanya satu. Jadikanlah semua orang bisa berpengertian. Tak masalah orang menjadi maling, asal maling yang berpengertian. Tak masalah menjadi penjahat, asal penjahat yang berpengertian. Dan penulis lupa berharap pada orang baik. Pada orang baik, penulis berbaik sangka sudah berpengertian. Nyatanya, setelah pengamatan panjang, ada juga orang baik yang tidak berpengertian. Jelas dia tidak baik. Penjahat yang berpengertian, dia akan jahat pada orang jahat dengan penuh ketelitian takut kejahatannya bernilai kebaikan. Orang baik yang berpengertian, dia akan mempertahankan kebaikannya tanpa keluhan sehati-hati mungkin. Ini terkesan berceramah saja. Ya, paling tidak penulis sudah berusaha menjadi pengarang yang berpengertian, dengan berusaha mengarang untuk dirinya sendiri. Kenapa tidak mengarang untuk orang lain? Nanti orang lain akan berkata, "Buat apa membaca tulisan dia? Wong mengarang-ngarang saja." Kalau sudah mengarang untuk diri sendiri lalu dibaca orang lain, berarti penulis berlepas diri dari ketidakmengertian mereka terhadap pengarang. Duh, kenapa sampai pada kalimat mengarang? Ini tentang rusuh di negeri sendiri, loh. Iya itu, kalau di negeri sendiri saja rusuh, apakah itu masih disebut orang yang berpengertian tinggal di dalam negeri? Kalau tetap ingin meminta keadilan, mintalah agar peraturan yang bersangkutan dengan rakyat, disetarakan dengan peraturan yang berlaku terhadap pejabat negara dan aparatur negara. Semisal rakyat diatur kena penjara kalau melawan polisi, beri peraturan pada polisi untuk tidak melawan rakyat, itu baru setimpal. Dan masih banyak hal lain yang bisa disetimpalkan. Sisanya mikir sendiri. Karena, bagaimana pun, seharusnya peraturan ada saling berkaitan. Kalau rakyat diatur, berarti yang bersangkutan dengan rakyat juga harus diatur. Sayangnya, di negeri kita ini semuanya adalah rakyat. Yang bukan rakyat adalah pancasila, undang-undang 1945, NKRI dan sekutunya.

Apa penulis setuju terhadap keadaan yang berlangsung di negeri ini? Bisa iya, bisa tidak. "Ayolah, seharusnhya ada keberpihakan." Jelas, penulis hanya berpihak pada dirinya sendiri, sebab dirinya adalah rakyat. Mereka yang berhari-hari demo, saat sampai pada batasannya, mereka akan barbar sendiri. Apa mau kejadian pada tahun 1998 terulang kembali? Orang-orang yang turun ke jalan menjadi buta hati karena sangu, rasa lapar, haus birahi, tidak tersalurkan beberapa hari. Jadilah saat melihat toko, perempuan, dan makanan, menjadi kalap. Makna pergerakan menjadi apa waktu itu? Sayangnya saya tidak tahu, karena barangkali saya baru berumur beberapa bulan pada saat itu.

Ayolah, katanya negeri kita ini negeri yang paling beradab, jadi jangan biadab. Turun  ke jalan bukan berarti harus bakar-bakar. Menegakkan keadilan jangan barbar. Ajak para kenalan yang dekat dengan anggota perwakilan rakyat, ajak orang-orang yang didengar ucapannya untuk ikut andil mendatangi pemerintahan secara baik-baik. Beberapa artis, beberapa pengusahawan terkanal, beberapa tokoh kebangsaan dan kebudayaan, itu sudah lebih mewakili kalian-kalian yang tahu kondisi negara ini dari sesuatu yang viral belaka. Negeri ini, tidak baik-baik sajanya berlangsung sejak jaman Sukarno. Bagaimana penulis tahu? Baca sejarah, pelajari, sangkut pautkan dengan kejadian sosial dan lingkungan serta peninggalannya. Barangkali bisa paham. KUHP, itu peninggalan belanda. RKUHP, itu usaha agar kenangan tentang belanda bisa sedikit berkurang. Semisal ada yang salah di beberapa pasalnya, minta baik-baik, jangan lantas mengeluarkan istilah "TOLAK RKUHP!" Kalau ditolak, sejarahnya akan sama saja. Juga begitu terhadap peraturan yang lain. KPK itu ada karena bentuk kritik terhadap polisi, yang waktu itu tidak becus mengadili para koruptor. Penulis tidak memihak pada siapa pun, dia memihak pada dirinya sendiri. Jadi, bergerak dan bertindaklah sesuai pemahaman, agar tidak konyol, kalau sudah konyol lalu mati, mau disebut mati konyol? Baiklah, begitu saja nyinyiran ini berakhir.[]

Labels: 2019, Renungan, Tentang Negeri

Terima Kasih telah membaca Rusuh di Negeri Sendiri. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Rusuh di Negeri Sendiri"

Back To Top