Algoritma


Adakah tempat untuk mengungkapkan emosi? Sayangnya tidak. Sedari kecil, saat menangis, ibu bilang jangan menangis. Saat marah-marah, ayah bilang jangan begitu. Perasaan yang begitu memilukan, selalu dihentikan agar tidak memilukan. Orang tua, kadang hanya bisa mengatakan jangan, agar rumah yang ada tetap dalam keadaan damai. Bisa dibayangkan semisal anak menangis, marah-marah, dan suka usil, tentu ribut sekali keadaan rumah. Tapi, apakah kita bisa tersenyum sepenuh hati kalau menangis sepenuh hati saja disuruh jangan menangis?

Oke, semua orang bisa berkomentar tentang tindakan, ini baik, itu buruk. Tapi saat dihadapkan dengan emosi, semua diam. Saat dihadapkan dengan perasaan sedih, semua diam. Barangkali orang-orang beranggapan, emosi bukan bagian dari manusia, jadi tidak perlu ditanggapi.

Di abad ke-21 ini, algoritma seakan menjadi hal penting, bahkan ada yang menuhankannya. Tapi, ada yang belum mengerti bahwa emosi bagian dari algoritma tersebut. Emosi, dia algoritma yang dilakukan turun-temurun oleh hewan mamalia, manusia ini termasuk di dalamnya. Rasa takut, marah, sedih, adalah susunan pertimbangan dalam kehidupan. Seekor gajah menjadi tidak terkendali saat dipisahkan dengan anaknya. Burung merpati akan susah makan saat pasangannya dipisahkan. Tidak ada yang berpikir untuk membiarkan gajah yang marah agar tetap marah, burung yang tidak makan dibiarkan tidak makan. Sebagian besar orang tidak mengerti, bahwa itu bagian dari algoritma.

Begitulah seharusnya, kita akan bisa tertawa sepenuh hati kalau bisa menangis sepenuh hati. Marah, biarkanlah dia mendapatkan ruang dalam kehidupan, karena bagian dari emosi.

Jujur, kadang sebuah keluarga hanya memperbolehkan anak-anaknya tertawa, tersenyum, bahagia, dan ramah pada orang lain. Mereka tidak memberi ruang agar anak-anaknya bisa menangis, marah, dan bertindak sepenuh hati. Memang, mengurus anak-anak agar bersikap sopan, selalu ceria dan tampak berpendidikan itu urusannya orang tua, tapi orang tua seringkali lupa bahwa banyak anak yang kehidupannya menjadi penuh kebohongan dan apatis hanya karena emosi yang ingin dikeluarkannya disekat. Manusia ini bukan robot. Sungguh, anak-anak yang dibesarkan dengan kebiasaan pagi dicium, malam dipeluk dan ditutup mulutnya saat menangis, dia akan menjadi anak yang penuh tekanan batin. Anak yang demikian akan berusaha mencari kebebasan, tapi tak pernah bisa bebas dari kebiasaan masa lalu. Secara tidak langsung, orang tua telah menanamkan algoritma agar anak menjadi api dalam sekam. Pendendam, rasa cemburu? Jangan ditanya. Akal membelot, selalu ingin diperhatikan, akan terpikirkan sepanjang masa.

Hidup ini berjalan sebagaimana laju pikiran. Orang mengatakan jangan, karena algoritma yang tertanam dalam kepalanya menghitung kemungkinan-kemungkinan, seberapa besar resiko dan seterusnya, hingga sampai pada ingatan masa lalu, jangan. Memahami diri sendiri tanpa pengaruh orang lain, kadang susah. Tapi percayalah, kalau ada ruang untuk mengungkapkan emosi, curhat tanpa takut ada yang salah, dan menemukan orang-orang yang bisa diajak hidup bebas, itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi diri sendiri.[]
Labels: 2019, Abstrak

Terima Kasih telah membaca Algoritma . Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Algoritma "

Back To Top