Percakapan Paling Mencurigakan


"Koordinat. Koordinat, Ndan! Sudah dipastikan, Lintang -6.170121, dan Bujur 106.824345. Keakuratan 89 persen." 

"Bagaimana situasi bagian utara?" Yang disebut Ndan berbisik-bisik lewat Handy Talky, HT. 

"Enam drone dan lima pengintai. Bisa dilewati oleh Bagian Dua." 

Percakapan singkat lewat HT selesai. 

Bagian Dua adalah seorang pejabat yang dikawal dua orang. Tak ada yang mencurigakan. Tanpa mengisi buku tamu atau prosedur merepotkan, Bagian Dua melenggang ke titik koordinat. Memanipulasi wajah dan berlagak bijaksana cukup ampuh dalam mengecoh petugas pintu. 

Lima pengintai yang meletakkan matanya selaras dengan scope diam dan menganggap semua aman-aman saja. Di atas gedung tertinggi mereka tiarap. 

HT kembali berdenging. Ada yang berbisik, "Plane D dimulai." Lalu disambut dengan sahutan, "Snake Zipper". Entah bagaimana mereka menyepakati “resleting ular” sebagai penyemangat. Barangkali karena bisa menjepit tanpa bunyi, walau bergigi. 

"Sepuluh menit lagi, tetap kedap dan tak ada yang memasang mata." Ini perintah Ndan dari HT. 

Saat itulah, operasi menyunyikan berlangsung. Para penyandang menteri di jajaran pejabat, diseret tanpa ada mata yang curiga. Dua, tiga, empat, enam menteri, diganti dengan pemeran lain tapi dengan paras yang sama. Para pengganti tersebut berdiri, ikut menyanyikan lagu kebangsaan. 

Jauh hari, di antara pemegang HT berbisik sebelum plane D dimulai. "Mengapa kita melakukan operasi di tengah keramaian? Ditambah pengamanan di sana nanti akan ketat sekali." 

Ndan berkata, "Di keramaian dan di penjagaan yang ketat itulah, tindakan paling mustahil bisa dengan mudah terjadi. Itu kesempatan paling baik daripada hari-hari yang lain." Penjelasan Ndan cukup mudah dimengerti. Beberapa orang yang paham tanpa bertanya mulai tersenyum. Dan saat plane D berjalan seperti ular, si pemegang HT yang sebelumnya bertanya tambah yakin dengan Ndannya. 

"Halus, bawa para menteri ke mobil pengarak. Laksanakan saat pelantikan usai." 

Pelantikan selesai, orang yang dilantik segera dikawal menuju peristirahatan. Di antara para pengawal, ada Bagian Dua yang ikut serta. Seorang pejabat, tentu harus berjabat tangan agar jelas martabatnya. 

"Selamat. Saya senang hari ini bisa terjadi." Jabatan tangan disertai ucapan kaku, seperti biasa. 

Saat para penjaga siaga di luar, Bagian Dua dan orang yang baru dilantik mulai main domino. Kenapa tidak main kartu? Main kartu itu urusan mafia, sedang domino adalah bentuk dari kerakyatan. 

Main domino tanpa rokok itu lebih pas. Bagian Dua menawarkan harga atas pelantikan. "Dua belas untuk enam!" Ucap Bagian Dua seraya melempar domino dengan dua belas bulatan merah. 

Orang yang baru dilantik tertawa. "Enam, cukup merah di mata. Tentu aku hanya punya enam kosong." Setelah kalimat itu, domino dengan enam bulatan dan bagian kosong menimpa domino dua belas. 

"Itu terlalu murah. Bagaimana kalau diganti dengan enam yang lain?" 

Bulatan merah tiga-tiga terkapar di atas meja. 

Permainan selesai. Orang yang baru selesai dilantik sepakat. Tiga menteri atas keinginan Bagian Dua, sedang tiga lainnya dari orang yang baru dilantik. Harga yang lumayan murah. Pertemuan selesai. 

Bagian Dua keluar dari koordinat dengan diiringi mobil pengarak yang di dalamnya berisi para menteri yang tak sadarkan diri. Atau sebetulnya mereka sudah mati. 

Saat mobil jauh melaju, drone-drone berjatuhan. Sinyal pengganggu diaktifkan sesuai titik koordinat yang dilaporkan sebelumnya. 

Baik, waktunya plane G dimulai. Para menteri pengganti merapat. Lalu melempar domino di hadapan orang yang baru selesai dilantik. Kali ini, permainan kartu akan dimulai, bukan lagi domino. 

Jadilah, media-media penyebar berita memulai tebak-tebakannya. Seperti menerka kartu as yang akan bertengger di atas meja, atau joker untuk keberuntungan yang sedikit arogan. Saat situasi tebak-tebakan berlangsung, Ndan kembali bersuara lewat HT. "Waktunya istirahat. Mesin telah menyala, kita tinggal menunggu hasilnya." 

Semudah itu kalimat Ndan berakhir. 

Para pengamat, nyinyir. Pembenci kekuasaan, anyir. Semua yang berkepentingan langsung berubah profesi sebagai pengamat. Lalu para manusia pengguyon, konyol berucap, "Rekan dan teman semua, saya mau meluruskan, bahwa kabar saya akan diangkat sebagai menteri adalah kabar bohong belaka. Sekali lagi itu kesalahan. Terima kasih." Ya, cukup menghibur, untuk orang yang mengerti. 

Plane G terus berlanjut walau Ndan berkata "mesin telah menyala". 

"Kenapa harus G atau D untuk setiap plane. Apa artinya? G untuk good, bagus. D untuk door. Pintu? Bukan. Door yang bisa membunuh orang itu paling maksudnya. Door! Mampus." 

Itu pikiran orang yang bosan menjaga HT, yang tentu tidak akan ke mana-mana itu benda. Bagaimana pun, orang tersebut ingin percaya sepenuhnya pada orang yang dikenal namanya hanya dengan sebutan Ndan. Ndan, siapa orang itu sebetulnya? Apa tujuannya? Orang tersebut bertanya-tanya. Saat pertanyaan itu mentok di ujung rambutnya, HT bergeresak. 

"Saudara dan rekan sekalian, kita jumpa malam ini di koordinat Lintang -6.122108, dan Bujur 106.832786." 

Penyebutan titik koordinat diucapkan pelan seperti robot, agar para pemegang HT bisa mencatatnya dengan lengkap. 

Salah seorang yang hafal koordinat tanpa mengecek peta bergumam, "Bukankah itu di sekitar Ancol?" Orang tersebut menyangka Ndan akan mengajak mereka bersenang-senang setelah misi mustahil berjalan amat lancar. Yang muncul di benak orang tersebut, nanti akan banyak wanita penghibur, makan-makan, tidur sampai puas, dan upah akan dibagi-bagikan. 

Sampai malam berlangsung. Ketika semua sudah berada di titik kumpul, seorang yang menyebut dirinya Ndan keluar dari mobil. Saat itulah semua orang terperangah. Ada yang tak percaya. Ada yang menganggap semuanya omong-kosong. Jelas saja, Ndan yang mereka kira amat patriotik dan tak ada dalam jajaran politik, rupanya adalah seorang yang baru saja selesai dilantik. Itu sebuah kejutan, atau pecutan? Mereka tak peduli. 

Bagian Dua sedikit bisa mengira permainan berikutnya yang akan dilakukan Ndan. Bagian Dua segera memasang niat untuk lari sejauh mungkin. Seraya menjauh, dia mengingat kilas balik misi yang didapatnya. Misi yang mereka terima cukup gelap. Mereka tidak tahu wajah orang yang mengaku Ndan. Mereka percaya dan ikut alur begitu saja karena mendapatkan penjelasan bahwa, kedudukan Ndan amat kuat di segala lini. Walau meletakkan kecurigaan, Bagian Dua tetap ikut permainan tersebut. Dia percaya akan mendapatkan bagian besar dari pembagian kedudukan tersebut. Sampai pada saat matanya sendiri tahu, Ndan di balik HT adalah orang yang diajaknya main domino, dia tak lagi bisa percaya. Kemudian, kejanggalan-kejanggalan bermunculan di kepala Bagian Dua. Saat itu, Ndan memberi perintah, "Kau pasti berhasil mendekat, nanti para penjaga akan meninggalkan kalian. Rakyat suka main domino, bukan kartu, jadi kau keluarkan domino. Ajak dia bermain dan lakukan penawaran. Ruangan yang akan kau datangi dipenuhi kamera pengintai dan penyadap suara, jadi menggunakan bahasa perkodean yang tidak biasa merupakan cara terbaik." 

Rupanya, itu sudah diatur. Bodohnya, dia baru sadar. Sebelum Ndan sadar dirinya akan melarikan diri, dia segera berkelebat menuju laut. 

Semua sedang tertawa dan beramah-tamah dengan Ndan yang baru mereka ketahui identitas aslinya. Namun, mereka tidak menyangka bahwa identitas seseorang bisa berubah setiap waktu. Atas keteledoran tersebut, mereka dibasmi sedemikian rupa dengan senjata mesin. Suara pembantaian yang cukup puitis terdengar ke arah Bagian Dua, sayup-sayup. Bagian Dua semakin kalangkabut berlari. 

Ndan kemudian berucap, "Saksi harus ditanam sedalam mungkin agar tak tercium bangkainya." Tepat setelah kalimat itu, dia menembak orang yang memegang senjata mesin dengan pistol kecil. 

Keramaian segera mencipta sunyi. Para mayat yang penuh luka bermekaran, Ndan seret satu-satu ke dalam bak mobil sampah, lalu membuangnya ke dalam kapal cepat. Setelah semua mayat masuk, dia membiarkan kapal cepat melaju ke tengah laut, disertai bahan peledak yang dikendalikan dari jarak jauh. 

Misi plane E selesai, kapal terbakar dan nanti media akan memberitakan itu sebagai kebakaran kapal dengan beberapa korban yang tidak bisa diselamatkan. 

Mengapa harus plane E? E untuk elegant, atau egois. Bagian Dua melihat semuanya di balik cadas dengan napas yang ditahan-tahan.[] 

Jakarta, 23 Oktober 2019
Labels: 2019, Cerpen, Fiksi

Terima Kasih telah membaca Percakapan Paling Mencurigakan . Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Percakapan Paling Mencurigakan "

Back To Top