Memaknai Ulang Kepercayaan

Apakah kau akan memilih dipercayai orang lain dibanding memercayai orang lain? Untuk para raja, di mulutnya mengatakan, “Aku lebih mengharapkan kepercayaan rakyatku”, sedang dalam benaknya berpikir, “Tentu aku ingin memiliki orang-orang yang dapat dipercayai.” Kalau hanya sekadar dibaca tanpa dipikirkan, barangkali dua kalimat yang dinisbatkan pada raja tersebut tak memiliki maksud. Biarkan penulis menerjemahkannya seruntut mungkin, semoga tulisan ini tidak terkesan tua, yang kemudian akan menganggap penulisnya ketuaan. 

Mengharapkan kepercayaan orang lain sepertinya tidak perlu. Memang tidak perlu. Siapa pula yang bisa memercayai orang lain yang isi kepalanya tidak diketahui sedang memikirkan apa? Mengharap kepercayaan orang lain sama halnya dengan mengharap kenyang tapi tak pernah makan. Walau sekarang mudah saja untuk merasa kenyang, tinggal infus, mau tidak makan satu bulan masih saja hidup. Apa mengharapkan kepercayaan orang lain bisa dianalogikan dengan hal itu? Jujur, penulis sendiri tidak pernah mengharap kepercayaan siapa pun. Pada ibu dan ayah? Tidak. Kepercayaan orang lain terhadapku hanya ilusi. Bisa jadi pula hanya anggapan biar diri merasa aman, dianggap ada dan diperhatikan. Andai tahu bahwa tidak ada satu pun yang membuat diri merasa aman, apalagi dianggap oleh orang lain hingga dapat perhatian, pasti yang terjadi adalah keputusasaan. Terpuruk. Mengutuk takdir. Menyalahkan orang lain. Ringkasnya, mengharap kepercayaan orang lain sama saja dengan menyandarkan diri, hingga saat yang disandari roboh, barulah tempat sandarannya yang disalahkan. 

Apa pikiran kita terlalu bebal hingga pada dasar sebab akibat saja tidak mau paham? Mengharap kepercayaan orang lain itu hanyalah akibat, dan itu tidak mungkin ada bila tanpa sebab. Seharusnya, kan begini: Sebab percaya pada orang lainlah, baru kepercayaan orang lain pada diri bisa dirasakan. Memercayai orang lain saja kadang was-was, malah ngotot mengharap orang lain bisa percaya. Kalau tidak mau kecewa, tirulah kehidupan para raja-raja, atau pemimpin besar dunia. Mereka-mereka susah payah mencari orang yang dapat dipercayai, menyeleksinya secara ketat. Tak ada ceritanya mereka-mereka itu menyeleksi orang yang percaya padanya. Karena kalau yang dicari kepercayaan orang, pengkhianatan dan hilangnya nyawa sering terjadi. Jadi tidak ada ceritanya penguasa mengharapkan kepercayaan rakyatnya, karena penguasa sendiri sibuk mencari orang yang bisa dipercayainya. Sudah paham atau belum? Paling tidak paham. Kalau begitu, coba tanya kisah percintaan para orang tua. Mereka bisa hidup bersama karena percaya pada yang diajaknya hidup bersama, bukan mengharap dipercayai. Jadi akan aneh sekali semisal kita-kita ini mencari pasangan yang diharap kepercayaanya, tapi kita sendiri tidak percaya padanya. 

Duh, kenapa malah bahas kata cinta. Padahal satu kata ini paling susah didapatkan artinya, dan paling susah pula kutuliskan dalam cerita-cerita. Kurasa karena aku terlalu percaya bahwa di dunia ini tidak ada cinta. Di hati setiap orang tidak ada cinta. Karena cinta yang kita pahami, sejatinya hanyalah deskriminasi. Apa kata para penyair dan para bujangga tentang cinta? Ingin melindungi seseorang yang dicintai, ingin membahagiakan dan sebagainya. Bukankah itu deskriminasi? Memang hanya satu orang saja yang patut dilindungi? Yang lain dianggap apa? Barangkali di antara kita akan bertanya, kalau tidak ada cinta di dunia ini, lalu hubungan orang tua kita, rasa seorang lelaki pada perempuan, lantas yang dinamakan cinta yang mana? Lihatlah orang yang mati, lihatlah batu, langit, matahari, bulan, air, itulah cinta. Cinta adalah tidak menyakiti, tidak mendeskriminasi, tidak ada kebencian atau rasa lainnya, tidak membutuhkan apa pun. Mereka yang berperang atas nama cinta, itu bukan cinta, melainkan ego untuk menyingkirkan yang lain. Cinta adalah ketika yang berperang itu mati, bukan yang hidup. Ampun, mengapa aku begitu panjang menjelaskan hal yang barangkali dianggap tidak penting ini? 

Up, sudah, sudah selesai ceramah dan membatinnya.[]

Labels: 2019, Abstrak

Terima Kasih telah membaca Memaknai Ulang Kepercayaan . Kalau kalian suka, bagikan...!

1 Comment for "Memaknai Ulang Kepercayaan "

Back To Top