Tidak ada Pahlawan di Negeriku



Mari kita diskusi sejenak. Menurutmu, pahlawan itu apa? Orang yang ikut berperang saat-saat penjajahan? Oh, menurutmu itu pahlawan? Tentu kau akan menganggapnya pahlawan, karena negara memasukkannya ke dalam daftar nama-nama pahlawan yang diajarkan ke penjuru sekolah. Makna lain dari pahlawan, apa kau tahu? Pejuang? Oke, pejuang karena memperjuangkan sesuatu yang dianggapnya benar dan adil. Atau, berjuang karena ingin melindungi dan mempertahankan sesuatu yang dianggap berharga. Kalau begitu, mengapa ada beberapa Kiai yang dimasukkan dalam daftar nama pahlawan? Apa yang telah diperjuangkan? Atau, apa yang telah dilawan? Mereka yang masuk itu tidak sadar berdakwah, kah? Oke, sepertinya pertanyaan ini salah karena aku tidak mempelajarinya. Karena yang muncul saat kata kiai diucapkan, adalah bayangan pendakwah, pemberi nasihat dan sosok yang patut diteladani. Oya, bukankah pahlawan juga cocok untuk diteladani? Lagi-lagi, pertanyaan ini seperti salah juga. 

Pahlawan, kau bisa mengartikannya apa saja. Mau yang bajingan, yang kiai, atau yang menyandang jabatan di pemerintahan lalu disebut pahlawan, aku tak peduli. Karena pahlawan yang kebanyakan kita sebut namanya telah mati. Bukankah begitu kenyatannya? Oh, kata mati terlalu kasar rupanya, ganti saja ke kata, tiada. Pahlawan yang tiada. Masih belum sepakat? Ayolah, ini sedang diskusi, bukan berdebat yang mengedapankan perbedaan pikiran. Kalau tak ada kesepakatan, akan kulanjutkan ke pertanyaan berikutnya. Pertanyaan ini, aku jamin tak ada nilai salah maupun benarnya. Dengan demikian, diskusi barangkali bisa menemukan kesepakatan. Pertanyaannya adalah, akan kuletakkan di paragraf berikutnya. 

Apakah sekarang di negara kita ada pahlawan? Yang hidup dan bertindak heroik seperti di pikiran-pikiran imajinator itu? Jawabannya bisa ada, bisa tidak, sama pula dengan halnya bisa benar bisa salah. Jujur, selama kita hidup, adakah tetangga, atau siapalah yang disebut sebagai pahlawan sedangkan si pahlawan bisa berjalan dan berjumpa dengan orang-orang? Mau diakui atau tidak, pahlawan yang kita kenal adalah yang sudah tiada. Tidak ada pahlawan yang hidup. Lalu, semisal ada perang atau sesuatu yang harus dilindungi dari ancaman, pantaskah kita mengharapkan datangnya pahlawan? 

Aku sedang butuh pengampunan dan keamanan dari kejaran orang yang sumpah serapah saat ditagih hutang. Aku membuat poster lalu disebar di media sosial dan di dinding-dinding jalan. Salah satu poster dibaca seorang pahlawan, dia datang padaku menawarkan keselamatan. Tidak, ini hanya bercanda. Mana ada pahlawan di negara ini. Atau, jangan-jangan ada sesesok atau bersosok-sosok pahlawan, tapi tidak dengan nama pahlawan. Yaelah, kalau tidak dengan sebutan pahlawan, bukan pahlawan berarti. Bigitu saja rumusnya, sesuatu tidak ada kalau tidak ada namanya.

Diskusi ini akan semakin buyar kalau dilanjutkan. Daripada semakin buyar, mari kita sepakati sesuatu yang bisa disepakati. Jawab dengan sepakat, apakah ada pahlawan di negeri kita ini? Pahlawan yang masih hidup, ada? Kalau ada, aku adalah orang pertama yang akan menuliskan cerita-ceritanya agar dikenang sebagai satu-satunya pahlawan yang mendapatkan gelar pahlawan sebelum mati. Sayangnya, kalau ingin disebut pahlawan, kau harus mati dulu. Jadi, biarkan kuyakini, bahwa di negeri kita ini tidak ada pahlawan.[]
Labels: 2019, Tentang Negeri

Terima Kasih telah membaca Tidak ada Pahlawan di Negeriku. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Tidak ada Pahlawan di Negeriku"

Back To Top