Memaknai Ulang Kebutuhan


Kalau diberi pilihan antara, menjadi orang yang dibutuhkan dengan orang yang butuh, mau pilih yang mana? Atau kedua pilihan ini kurang cocok, dengan alasan "sepatutnya saling membutuhkan"? Untuk yang ini tidak usah dibahas, sebab saling membutuhkan harus melibatkan orang lain, bukan lagi personal.

Bagi yang merasa harus butuh pada orang lain, sebetulnya tak ada masalah, hanya cara pandangnya saja yang perlu disleding. Butuh, apalagi harus butuh pada hal lain selain Tuhan, itu sudah beda dunia. Tak perlu lagi orang sejenis ini diandalkan, karena bagaimana pun dia jenis orang yang suka mengandalkan orang lain, merasa dirinya paling berhak untuk mengatur. Info tambahan, biasanya ini jenis orang pemalas. Suka sok butuh pada orang lain, padahal mengerjakannya sendiri bisa. Ya, namanya juga pemalas. Kecuali memang sudah tak sanggup untuk mengerjakan sendiri, pandangan bahwa orang sejenis ini pemalas, tak dapat diandalkan dan sebagainya, adalah keliru. Tapi kalau sedikit-sedikit memanfaatkan orang lain? Masih mau memaknai orang sejenis ini punya rasa empati yang tinggi? Oh, dia perhatian sekali, makanya orang yang nganggur dikasih pekerjaan. Iya kalau orang yang diberi betul-betul butuh pekerjaan, kalau tidak?

Lalu, bagi yang merasa dirinya perlu dibutuhkan orang lain, ini biasanya pemikiran para raja-raja. Saat diri merasa dibutuhkan orang lain, apa masih sanggup untuk menyatakan "tidak" dan menepi dengan menyatakan "tidak sanggup". Biasanya, orang yang merasa dirinya dibutuhkan, dia akan berusaha memberi bukti, melakukannya, dan akan berkata tak sanggup kalau memang tak bisa berbuat lebih. Sayangnya, orang jenis ini sering dimanfaatkan oleh orang yang suka dan gampang sekali membutuhkan orang lain. Padahal, yang memenuhi kebutuhan orang lain ini bukan berarti sedang lowong waktu, hanya saja dia jenis orang yang meluangkan waktunya demi rasa empati. Tak enak saja bilang "tidak" pada sesuatu yang bisa dikerjakannya. Selagi mampu, selagi bisa, mengapa harus mengelak? Barangkali, orang sejenis ini tidak pernah mau merepotkan orang lain. Bukan berarti suka direpotkan.

Dasarnya, saat diri dibutuhkan orang lain, apa lantas perlu merasa diri juga butuh pada orang tersebut?

Ketika orang lain butuh cangkul, apa kita juga perlu membutuhkannya? Ok, ini beda konteks, tapi bisakah cari contoh sendiri untuk memahami arti dari kebutuhan ini?

Tentang kebutuhan, konsep penulis begini: "Kalau saya yang butuh, saya yang harus repot." Butuh=tidak mampu. Sanggup=mampu. Kalau mampu, berarti tak usah butuh.[]

Labels: 2019

Terima Kasih telah membaca Memaknai Ulang Kebutuhan. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Memaknai Ulang Kebutuhan"

Back To Top