Sejenak Melihat Sekitar



Memaknai Perayaan

Jika perlu diingat sesuatu yang pernah terjadi di dunia ini, maka ingatlah. Walau, dalam keseharian orang menggunakan pengingat tersebut seperti gula, yang kadang digunakan bukan untuk meredam rasa pahit, melainkan hanya pemanis dari sesuatu yang sudah manis. Ada pula yang membiarkan tergeletak begitu saja, karena memang tidak butuh untuk digunakan.

Mengingat itu kata kerja, tapi tipis sekali pada kata sifat. Sepatutnya kata kerja dari mengingat seperti apa? Perayaan, itu pantas sekali untuk mewakili kata kerja dari mengingat. Mengingat tanpa dirayakan, seperti gula yang dibiarkan begitu saja. Jadi, mari kita ulas perayaan.

Di dunia ini, ada orang yang merayakan kebahagiaan dan kesedihan. Barangkali akan ada yang menyipitkan mata dengan bergumam, “memang ada kesedihan yang dirayakan?” Woih, banyak sekali, tapi jarang disadari.

Ada seseorang yang dirayakan kelahirannya, dirayakan terus menerus walau orangnya sudah meninggal. Ada pula orang yang dirayakan kepergiannya, dirayakan terus menerus walau kelahirannya tidak begitu dirayakan seperti halnya saat meninggal.

Perayaan ini identik dengan kebahagiaan. Semisal ada orang mati lalu dirayakan kematiannya, berarti ada... (isi sendiri). Di dunia ini, barangkali ada orang yang bangga merayakan kepergian seseorang, namun berkeyakinan bahwa dia tidak sedang melecehkan orang yang pergi tersebut.

Kalau pengarang sendiri, dia memilih merayakan kelahiran seseorang daripada merayakan kepergian seseorang. Dia memilih mengenang kelahiran seseorang, daripada kematian seseorang. Karena bagi pengarang, mengenang kepergian itu serupa bahagia setelah bencana berlalu. Tentu pengarang tidak pernah tega menyatakan manusia sebagai bencana.

Pada akhirnya tinggal dipilih, merayakan kebahagiaan atau kesedihan.

Rumus:
Merayakan = Mengingat X Kebahagiaan. Bagus.
Merayakan = Mengingat X Kesedihan. Sakit jiwa.


Memaknai Kesetaraan

Ada yang berpikir setiap manusia setara. Dari sudut pandang mana, kurang tahu. Yang kontra dengan pemikiran ini sedikit sekali. Itulah sebabnya, gaungan tentang kesetaraan dan kemanusiaan sering terdengar, baik diperfilm atau di kerumunan pendemo yang tak selesai tuntutannya. Barangkali orang sejenis ini beranggapan bahwa keadilan itu harus setara bin sama. Padahal perlu diperjelas arti sama dan setara. Kalau sama dianggap suatu kedudukan, nilai, tingkatan dan sesuatu yang sebanding, jelas tidak patut digaungkan sebagai kesetaraan.Seperti saat ada lima tukang cangkul, satu dari lima orang tersebut berleha-leha, sering berhenti minum dan pamit kencing, tapi si punya tanah membayar sama kelima orang tersebut. Karena memiliki dalih bayaran sama adalah bentuk keadilan, keempat orang tersebut tidak menggerutu.

Rakyat di negeri ini, sejauh yang penulis amati, tak jauh beda dengan kelima tukang cangkul tersebut. Negara menyebutkan setiap orang (antara yang kaya dan yang miskin) berkedudukan sama di mata hukum, setara dalam mendapatkan pelayanan. Rakyat berpikir itu bermakna setara. Karena tak paham perbedaan tersebut, para pejabat dan yang paham makna dasar dari suatu kata, mengangap pendemo hanyalah gen yang berisik.

Sama=Setara?

Sebagian besar sepakat, hanya saja masih ada yang belum sadar bahwa mereka hanya setara saat memberi suara di pemilu saja. Selebihnya, berjuang sendiri, menonjolkan perbedaan yang kemudian dipermasalahkan dengan dalih, "Itu, lo, Mas. Tetangga kita sudah punya mobil, kita kapan? Itu, lo, Mas. Rumah tetangga kita tidak terkena genangan air saat hujan, kenapa rumah kita tergenang air?"
Selalu ada orang yang ingin setara dalam kehidupan sosial dan seterusnya.

Baik, yang ilmu tasawufnya kuat bin mendalam, mungkin menganggap setiap manusia setara, yang membedakan hanyalah amal perbuatan dan seterusnya. Yang padahal, itu sindiran halus untuk menyatakan bahwa, "Kita ini jelas tak sama. Perbuatan dosamu dan dosa saya juga jelas tak setara. Saya berbuat dosa padahal tahu itu dosa, sedang kamu berbuat dosa karena tak tahu itu dosa." Bagi pejuang kesetaraan, kelak saat dihadapkan dengan kesulitan, semoga tetap bisa mempertahankan dalih kesetaraannya.

Pilihan, seperti kuis di akhir permainan.
Pertama, sama baru bisa dikatakan adil.
Terakhir, setara baru bisa dikatakan adil.
Pilih, yang pertama atau terakhir?
Contekan, akan sama saja jawabannya kalau "setara" diartikan sebagai "sama".


Memaknai Kesia-Siaan

Hal yang tidak dituntaskan cenderung dimaknai sia-sia. Pemahaman sejenis ini ada karena tertanam sejak kecil. "Jangan sia-siakan nasi, Nak. Makan itu harus habis." Atau, "Sia-sia kau sekolah sampai SMA, tapi tak lanjut kuliah." Atau pula, "Sia-sia kau mondok selama ini tapi masih berpikir besok akan makan apa."
Dalih semacam itu tidak aneh. Dari saking tak anehnya, sering digunakan oleh kekuasaan untuk menggerakkan manusia melanjutkan perang berulang-ulang. "Kita harus melanjutkan perang, agar mereka yang gugur tidak mati sia-sia." Kemudian peperangan terjadi, tapi kalah karena jumlah musuh lebih banyak. Lagi-lagi kekuasaan berkata, "Kita harus kembali berperang, agar mereka yang berjuang tidak sia-sia." Keluarga dari orang yang mati dalam perang pasti setuju untuk melakukan peperangan lagi, dengan bayangan yang kental, bahwa keluarganya yang berjuang tidak berhenti begitu saja. Perjuangan akan sia-sia kalau perang tak dilanjutkan. Begitu seterusnya, walau tahu akan kalah, tapi demi sesuatu agar tidak sia-sia, perang berlangsung seperti dejavu.

Barangkali pas untuk menyandingkan kesia-siaan itu dengan kebodohan. Jujur, penulis memahami, bodoh itu bukan karena tidak tahu. Sama halnya dengan melompati jurang yang lebarnya sepuluh meter, diri tahu tak akan sampai, tapi masih melompat. Lompatan semakin meyakinkan saat mengingat, perjalanan yang panjang tak akan berhenti hanya karena jurang selebar sepuluh meter. Kalau berhenti, semua akan sia-sia, lalu lompatlah.

Sia-sia, sepantasnya pas dipasang pada situasi apa? Apakah sia-sia harus selalu tuntas agar tidak sia-sia?

Pada akhirnya, sia-sia itu pilihan. Tidak mungkin penulis menghabiskan setengah piring singkong sedang perut serasa ingin memuntahkan isinya. Ya, mungkin saja dipaksakan, tapi bukankah itu yang akan menjadi sia-sia?


Memaknai Kesempurnaan

Susah sekali untuk mendapatkan kesempurnaan. Terutama dalam suatu hal yang harus menunggu kesepakatan beberapa orang. Yang satu bilang harus merah, karena warna hidupnya merah. Yang satunya lagi bilang harus biru, karena hidupnya biru. Bayangkan kalau sampai lima orang dengan varian warna yang berbeda, kemudian menginginkan seorang seniman melukis dengan warna yang mereka sukai. Tidak boleh warna-warni, karena kelimanya tidak menyukai warna yang macam-macam. Timbullah perdebatan, revisi panjang yang menghabiskan banyak waktu. Pada akhirnya, lukisan yang didapat bukan berwarna kuning, merah, biru, atau sesuai dengan keinginan lima orang tersebut. Seniman pelukis tersenyum hambar, karena setelah banyak revisi perpaduan warna, lukisannya malah menjadi gelap.

Kelimanya terpaksa harus sepakat dengan warna gelap tersebut. Apa itu baru bisa dikatakan sempurna? Ketika tak ada pilihan lain?[]
Labels: 2020, Renungan

Terima Kasih telah membaca Sejenak Melihat Sekitar. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Sejenak Melihat Sekitar"

Back To Top