Tipuan, Masa Depan Hanya Tipuan Belaka

Seperti mengelus dengan lembut kepala angan-angan, berharap bisa jinak, menurut, dan patuh tanpa komplen. Nyatanya, yang dielus adalah api biru. Terlalu panas untuk merasakan sakitnya. Kiranya masuk akal, bahwa angan-angan mirip sekali dengan kemalasan. Dosa pemalas, konsekuensi pemalas, dan hidup pemalas, berkakikan angan untuk melewati hari ke hari.

Angan tanpa kenyataan sepertinya cukup sulit untuk dijalani. Begitupun kenyataan tanpa angan, seperti tatapan kosong seorang yang bingung memikirkan pekerjaan. Tanpa keduanya pun, sepertinya lebih masuk akal untuk memahami alasan mengapa bayi mengepal kedua tangannya. Bayi tidak punya angan atau menyadari kenyataan, dia hanya ingin memegang erat tempat tinggalnya, tidak ingin lepas, tidak ingin pindah tempat.

Kenyamanan, seharusnya manusia mencari kenyamanan. Bulshit sekali kalau ada orang yang berselogan, "mari keluar dari zona nyaman". Itu sama halnya dengan orang yang mengampanyekan, "berperang demi kedamaian", tapi nyatanya memerangi kedamaian. Apa kebutuhan manusia? Bukankah hanya urusan nafsu? Emosi? Kalaupun ada yang butuh pengetahuan, sedikit sekali yang menggunakannya untuk bersetubuh dengan pengetahuan itu sendiri. Atau, sebetulnya ada jenis orang yang mengejar pengetahuan, dengan berpesan begini pada orang tuanya, "Pak, Buk, aku tak meminta warisan harta. Aku hanya meminta warisan ilmu pengetahuan."

Jujur, manusia hanya makhluk yang bodoh. Terlalu gegabah. Tergiur dengan tawaran untuk berjudi dengan pilihan, "Kalau kau berbuat baik, akan lebih tinggi dari Malaikat, sedang kalau berbuat buruk, akan lebih rendah dari Iblis. Hiduplah di dunia untuk menjalani ujian, kalau mau." Manusia memilih hidup di dunia untuk menjalani ujian. Walau sudah diberi pedoman, sudah diajari masa lalu, tetap saja, lupa menjadi bahan tonjokan untuk tutup muka.

Sebetulnya saya malu menjadi manusia. Sudah terlanjur sok kuat untuk memilih kehidupan. Sok sadar bahwa diri bisa menyelesaikan ujian tanpa masalah. Sehari bisa berpuasa dari kebiasaan buruk, dua hari berbuka. Diri sadar salahnya di bagian mana, tapi tetap saja ada tawaran menggiurkan yang serupa ganja. Eh, memang pernah merasakan ganja? Tidak, hanya saja, kesenangan seringkali saya artikan sebagai ganja. Walau kadang, kesenangan itu sendiri seperti neraka. Saya seperti punya rumah dengan halaman rawa yang dihuni buaya.[]
Labels: 2020

Terima Kasih telah membaca Tipuan, Masa Depan Hanya Tipuan Belaka. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Tipuan, Masa Depan Hanya Tipuan Belaka"

Back To Top