Terlalu Pedas untuk Menyukaimu




Mereload kembali ingatan yang sudah memudar.  Tentang cara menulis yang baik, menjadi manusia yang berpengertian, dan kembali bersetan dengan segala hal. Seprti orang yang kerasukan setan? Mungkin. Lagipula, kadang kerasukan setan itu lebih menyenangkan daripada menjadi rumput liar. Dan lagi, rupanya saya mulai malu untuk menulis. Ya, ampun. Orang muda memang begitu. Banyak plinpannya.

Mari pindah plot. Tentang cabai, jenis racun yang dikonsumsi secara massal.

"Memang berapa porsi cabai yang bisa membuat orang sakit perut?"

"Tak usah menghitung porsi cabai untuk membuat seseorang sakit perut. Cukup beri beban pikiran, tekanan dan kekecewaan, itu sudah lebih pedas dari sekilo cabai yang diperas airnya dalam satu gelas."

Merasakan pedas merupakan salah satu cara bodoh tapi tidak tolol.

Lagipula, kenapa tidak tertawa saja daripada membahas pedasnya perasaan? Eh, dari tadi kan membahas pedasnya cabai, bukan pedasnya perasaan. Dasar tukang nganggur. Ngaur kerjaannya.

Ya sudah, kembali tentang tawa. Tawa, bukankah tertawa adalah salah satu hal yang membedakan manusia dengan binatang?

 Tertawa saja sana. Walau, jarang sekali saya ini melihat orang tertawa secara riil, banyaknya tawa fiksi. Eh, maksud saya, banyak orang yang tertawa online, tawa secara langsung terkesan sungkan. Sudah, ah. Malas sekali untuk menulis. Entah, ini nulis apaan. Niat menulis cerita malah ngalor ngidul seperti pengangguran.[]


0 Comment for "Terlalu Pedas untuk Menyukaimu"

Back To Top