Pengalaman Mondok


Contoh terbaik dari hidup adalah pengalaman. Pencerita terbaik dari hidup adalah kenangan. Penegur terbaik dari hidup adalah penyesalan. Itu semua bisa didapatkan dengan mudah. Tak perlu sungkan untuk mengakuinya. Untuk itu saya akui, walau tidak begitu taat dalam beragama, saya pernah mondok. Ini bisa disebut pengalaman, kenangan dan penyesalan. Ketiga hal ini, barangkali akan saya tulis. Kalian merasa alergi dengan ketiga hal tersebut? Atau trauma dan bermusuhan dengan suatu hal yang berkaitan dengan pondok? Saya sarankan lewati saja tulisan ini. 

Hanya tiga tahun saya mondok. Betah? Iya. Tertekan? Tidak. Bebas? Iya. Apa yang didapat selama tiga tahun? Entah. Hanya saja, kenangan begitu manis membuat diri tersenyum cukup lama. Bisa dibayangkan, mondok tiga tahun, menghabiskan waktu di lingkungan yang itu-itu saja, belum seberapa dibanding mereka yang mondok belasan tahun. 

Pengalaman apa yang didapat dari pondok? Tidur. Pengalaman itu amat sangat mengubah jalan pikir. Dimulai saat pagi. Dari salat berjamaah subuh yang kemudian dilanjutkan dengan pengajian hingga matahari terbit, berebutan mengantri kamar mandi hingga bersiap berangkat sekolah, hal yang paling penting adalah tidur. 

Sebetulnya, kesempatan tidur ini bisa didapat dengan mudah. Saat itu saya berpikir, kalau ingin tentram tidur, bersegeralah bangun subuh, ambil barisan salat paling strategis, lalu tidur sambil duduk. Situasi ini sangat menguntungkan sekali, dibanding mereka yang saat panggilan salat dikumandangkan tapi masih mendengkur. Tidur mereka tak akan pulas, sebab pengurus yang bertugas membangunkan akan sangat bawel mengganggu, ditambah akan padat saat mengantri tempat bersuci. Bangun lebih awal untuk kesempatan tidur lebih tentram, bisa meringkas semuanya. Begitupun saat pengajian subuh, bersegera mengambil kitab untuk mencari tempat teraman untuk tidur. Pengajian kitab selesai, tanpa ada acara mengantri untuk mandi, karena itu akan menyita waktu tidur, langsung berangkat sekolah, duduk di kursi, kemudian tidur. Di saat yang lain sibuk mengantri untuk melakukan ini itu, ada kesempatan saya untuk tidur tenang dengan datang ke sekolah lebih awal. Urusan tidur mana lagi yang amat menguntungkan selain melakukan semuanya lebih awal? 

Tanpa sadar, urusan tidur ini menggugah minat teman sekelas. Teman yang biasanya telat karena ketiduran, datang lebih awal untuk tidur. Bahkan ada yang membawa bantal kecil di dalam tasnya, untuk tidur lebih pulas di bangku belakang. Tanpa ada acara kesepakatan, saat jam istirahat, teman sekelas memilih tidur di bangkunya masing-masing dibanding keluar kelas untuk main. Tak jarang, guru pengajar masuk kelas sering dalam keadaan terabaikan. Walau hal ini cukup menguntungkan, mereka yang masih pulas tidur, kadang dibiarkan hingga pelajaran selesai. 

“Siapa tahu mereka tidur dalam keadaan memimpikan nabi. Lagipula tidur itu ibadah.” Begitulah penjelasan guru pengajar saat ada satu teman yang hendak membangunkan teman yang lain. 

Entah, saya selalu senang saat melihat teman sekelas tidur seperti kapal pecah. Karena merasa paling bertanggungjawab dalam urusan tidur massal ini, saya selalu membangunkan teman yang lain saat pelajaran akan dimulai. Kesepakatan macam apa itu? 

Dari tidur itu pulalah, saat susah untuk menutup mata, saat teman sekelas tidur dengan pulasnya, saya memilih keluar diam-diam untuk duduk di rental komputer, mengetik cerita pendek yang sebelumnya tak selesai. Pengalaman mengarang, dimulai dari tidur yang susah lelap. Kegiatan itu berulang-ulang. Saya harap, tidur ini tidak menyesatkan. 

Puncak dari keberuntungan tidur adalah, saya menjadi siswa terajin di kelas. Kepala sekolah memberikan piagam penghargaan. Waktu itu, ada tiga siswa terajin, Noval, Khairur Rofiqi dan tentu saja saya. Ketiga siswa terajin yang tak memiliki catatan alfa, izin, dan sebagainya tersebut adalah teman sekelas saya. Padahal waktu itu, ada berbagai kelas jurusan. Barangkali, kelas lain tidak ada siswa terajinnya karena jarang tidur. 

Ada yang berbisik, “Mustahil ada orang yang selalu masuk sekolah tanpa ada izin atau alfanya. Apalagi izin sakit, apa mereka tak pernah sakit?” 

Di belakang pula saya berbisik pada diri sendiri, “Memang sakit bisa membuat orang tak masuk sekolah? Kan sekolah hanya duduk, apa susahnya sakit sambil duduk? Tidak disuruh lompat-lompat atau perang sarung, juga. Dan lagi, saya ini walau mata terasa berat, kaki terasa susah melangkah, kepala seperti berteriak minta diistirahatkan, tetap masuk kelas demi tidur yang pulas.” Maksud saya, demi tidak tertinggal pelajaran. 

Karena dalam keadaan kurang enak badan tapi tetap masuk kelas, guru yang mengajar menyangka saya sering tidur saat pelajaran. Padahal menyimak, biar meresap itu ya dengan memejamkan mata. Apalagi saat sakit, memejamkan mata itu bisa sedikit mengurangi nyerinya. 

Andaikan ada yang bertanya, “Apa pengalamanmu di pondok?” atau pertanyaan, “Apa kenanganmu di pondok?” Saya hanya bisa menjawab, “Tidur.” Bukankah tidur itu kerjaan para pemalas? Entah. 

Tentang penyesalan, apa saya tak memiliki penyesalan selama mondok? Tentu ada. Saya menyesal karena tidak bisa tidur lebih lama.[]
Labels: 2020, Cara

Terima Kasih telah membaca Pengalaman Mondok. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Pengalaman Mondok"

Back To Top