Raja Jahad - Cerpen Ali Mukoddas



Namaku Jahad. Aku tidak mengutuk rakyatku meski mereka memanggilku Raja Jahat, tapi mereka menjadi batu. Kau harus percaya itu.

Aku diangkat sebagai raja karena ayahku seorang raja. Rakyat dari ayahku yang memaksa, kemudian mereka meminta dirinya sendiri menjadi rakyatku. Seharusnya aku yang mengangkat mereka sebagaimana mereka mengangkatku.

Rakyatku bahagia saat ayah membiarkan aku sebagai penerusnya. Mereka mengadakan pesta untuk dirinya sendiri. Sebagai raja, aku dipaksa ikut bahagia. Aku tersenyum agar terlihat bijaksana seperti raja sebelumnya. Apa menjadi raja tak boleh terlihat bodoh? Sayangnya, ayah hanya mewarisi wajah dan kedudukan, dia tak mewarisi kebijaksanaan dan senyuman yang akan membuatku terlihat pintar.

Mau seperti apa pun aku tersenyum, rakyatku ikut tersenyum. Itu membuatku merasa berada di depan cermin. Aku tahu mereka tersenyum bodoh.

“Raja kita amat bodoh. Dia tidak bisa menyulut peperangan dengan raja lain.” Kalimat itu pernah kudengar dari salah seorang tamu yang diundang ayah untuk merayakan tahun panen.

Selain kalimat yang pernah kudengar sendiri, barangkali tak terhitung berapa orang yang mengataiku bodoh hanya karena aku lebih memilih kedamaian daripada wilayah kekuasaan.

Pernah kuadakan pertemuan besar, menyampaikan bahwa selama rakyat bisa makan tanpa kekurangan, bisa bertani, berternak dan berburu dengan aman, itu sudah lebih cukup daripada peluasan wilayah yang akan membutuhkan banyak darah. Bagaimana pun aku menjelaskan, selalu ada orang yang tidak mengerti.

“Iya orang-orang kerajaan bisa aman dan tidak merasa terancam akan kelaparan. Kami juga ingin hidup tenang dengan memiliki stok makanan yang cukup untuk beberapa tahun ke depan. Bagaimana kalau ada suatu wabah yang akan membuat kita tak bisa berbuat lebih? Wilayah yang itu-itu saja, ternak dan tani yang luasnya tidak bertambah, apa itu masih bisa dikatakan aman untuk kami?”

Aku membantah kekhawatiran itu. Menjelaskan dengan tegas bahwa kelaparan tak akan pernah terjadi, semisal terjadi pun akan ditanggung oleh pihak kerajaan. Namun setelah menjelaskan dengan sikap yang sok tegas itu, aku menyesal. Mereka tetap memandangku sebagai raja bodoh.

Andai bisa menuntut, aku ingin menuntut rakyatku. Tak banyak yang akan kutuntut, paling hanya senyum kebahagiaan. Akan kutanyakan pada mereka, “Ke mana kebahagiaan yang kalian tampakkan saat aku pertama kali diangkat sebagai raja? Apa kebahagiaan itu terlalu kalian hambur-hamburkan hingga tak tersisa untuk saat ini?”

Hilangnya kebahagiaan itu semakin tampak saat ada beberapa orang yang berpakaian serba hitam datang mengeluhkan, wabah telah datang dari Negeri Dingin. Beberapa warga yang berburu dan bertani di wilayah luar kerajaan telah meninggal karena wabah itu. Beberapa orang yang berpakaian serba hitam itu memintaku untuk menjamin keselamatan mereka. Demi menyetujui penjaminan, kuperintahkan mereka untuk tetap berada di wilayah kerajaan.

Kurasa beberapa orang yang datang meminta penjaminan tersebut mematuhi apa yang kukatakan. Namun mereka menganggap dirinya lebih pintar, kemudian menyebarkan sesuatu yang kukatakan kepada orang yang mereka temui, orang yang mereka temui mengatakan pada keluarga dan seterusnya. Dan mereka ketakutan.

“Hanya raja Jahat yang membiarkan rakyatnya ketakutan.”

Seorang yang dikenal bijaksana mengatakan kalimat tersebut di sela-sela ketakutan. Aku tahu, orang tersebut seringkali datang menemui ayah, mereka berbicara di ruang penjamuan hingga salah satunya merasa ngantuk. Setiap akan pulang, orang bijaksana itu mengatakan, “Hanya raja Jahat yang membiarkan rakyatnya ketakutan.” Kalimat itu diucapkan pada ayah agar dia selalu memberi rasa aman pada rakyatnya. Tidak mungkin orang sebaik itu berkata, “Raja Jahad membiarkan rakyatnya ketakutan”.

Apa aku terlalu bodoh memilih kalimat, hingga membuat mereka ketakutan hanya karena kukatakan, tetap berada di wilayah kerajaan?

Karena takut, mereka menuruti perkataan, yang padahal hanya kusampaikan pada beberapa orang. Rakyatku memilih tinggal di wilayah kerajaan. Yang jauh mendekat, yang dekat semakin mendekat, seperti ada hantu masa lalu yang menghalau mereka. Tempat yang seharusnya lengang menjadi padat, seramai saat mereka sepakat mengangkatku menjadi raja. Namun, baru kali itu kulihat mereka berada di wilayah kerajaan dengan wajah murung. Saat kusapa mereka dengan senyum, mereka seakan berkata, “Raja Jahat, tega sekali membiarkan rakyatnya ketakutan tanpa memberi mimpi pembebasan.”

Setelah mereka memilih berkumpul di wilayah kerajaan, beberapa orang meninggal, dan mereka menuntutku untuk bertanggungjawab. Sebagian orang menyampaikan padaku bahwa wabah telah masuk ke wilayah kerajaan, namun rakyatku lebih percaya bahwa, mereka meninggal karena tidak mendapatkan jatah makanan. Aku semakin dikenal sebagai raja jahat yang membiarkan rakyatnya mati kelaparan, yang membiarkan rakyatnya ketakutan.

Aku tak mau menghukum mereka yang mengatakan bukan-bukan tentangku. Pembagian makanan dan kebutuhan sehari-hari tetap rata kubagi. Kalau rakyatku tidak serakah, pembagian seperti itu bisa dilakukan sampai tiga bulan lamanya. Namun, sebelum tiga bulan terlewati, persediaan habis. Orang-orang yang tidak memiliki kesabaran, kembali ke rumahnya masing-masing, kembali bertani dan berburu untuk menghilangkan kebosanan.

Wilayah kerajaan kembali lengang.

Wabah yang membuat orang-orang meninggal sudah tak terdengar lagi kabarnya. Beberapa orang yang sebelumnya meminta jaminan aman, kembali datang padaku. Mereka datang bukan untuk berterima kasih. Mereka datang dengan membawa batu berbentuk manusia. Kukira mereka berusaha menghiburku dengan membawakan patung raja berbelas kasih yang telah mengamankan rakyatnya dari wabah.

“Beberapa orang yang meninggalkan wilayah kerajaan menjadi batu. Kami membawa orang bijaksana yang menjadi batu ini untuk diperlihatkan ke raja sebelumnya.”

Kalimat itu susah kucerna, aku malah beranggapan mereka membuatkan patung orang bijaksana untuk ditawarkan pada ayah. Mereka akan mendapatkan banyak hadiah karena ayah begitu mengagumi orang bijaksana tersebut.

Beberapa orang yang berpakaian serba hitam itu pergi, lalu datang segerombolan pemuda, mengangkat bendera hitam seraya berteriak, “Lepaskan kutukan raja pada rakyat. Kami bukan batu. Kami juga ingin makan sebagaimana raja makan.”

Teriakan mereka segera bungkam saat penjaga wilayah kerajaan berbaris dan meminta izin padaku untuk menghabisi para pengkudeta. Aku tersenyum bodoh. Pengkudeta? Jelas mereka sedang menuntut kesejahteraan padaku, bukan kudeta. Sayangnya, senyumanku disangka kata “iya”, dan penjaga wilayah menangkap pemuda-pemuda tersebut.

Penangkapan tersebut disaksikan beberapa orang yang sebelumnya pergi, sepertinya mereka membalik arah setelah mendengar kerusuhan para pemuda. Sebagai saksi, mereka menyampaikan pada orang yang mereka temui, orang yang mereka temui menyampaikan pada keluarga dan tetangga. Jadilah, “Raja Jahad akan mengeksekusi pemuda-pemuda yang memiliki niat bertamu.”

Aku tahu skenario akhirnya pasti penggulingan Raja. Daripada memikirkan penggulingan, aku hanya tak mengerti, bagaimana rakyatku sangat amat tak punya pekerjaan. Mereka repot-repot menjadikan aku raja, tapi aku musuh bagi mereka.

Aku pergi melihat orang-orang yang menjadi batu. Beberapa orang yang sebelumnya datang membawa batu mirip orang bijaksana, menawarkan diri untuk menjadi penunjuk arah. Aku tidak mau tahu nama-nama mereka, karena sebagaimana raja, nama semua orang selain warga kerajaan adalah Rakyat.

Di sepanjang jalan, rakyatku menyebut-nyebut Raja Jahat. Sepertinya mereka memanggil namaku. Aku berusaha menyalahkan telinga yang kurang tajam menangkap bunyi akhir dari namaku. Raja Jahat, Raja Jahad. “Raja Jahat akan mengunjungi orang yang dikutuknya menjadi batu.”

Aku melihat sendiri rakyatku yang menjadi batu. Singkat kuminta keterangan, mereka mengaku sosok yang membatu itu sebagai orang yang pernah mereka kenal. Beberapa orang yang menjadi penunjuk arah mengangguk, lalu mereka menawarkan diri untuk menunjukkan pembatuan yang lain. Aku melambaikan tangan. Setelah itu aku memilih kembali ke wilayah kerajaan.

Rupanya, selama aku pergi, rakyat berdusun-dusun mendatangi wilayah kerajaan, dan mereka semua menjadi batu.

Beberapa orang yang sebelumnya menawarkan diri sebagai penunjuk arah datang membawa pedang dan busur. Mereka tetap mengenakan pakaian serba hitam, seperti saat pertama melaporkan tentang wabah yang membuat beberapa orang meninggal. Bodohnya, aku baru menyadari keanehan orang-orang itu.

Mereka mengancam. Mengatakan akulah Raja Jahat yang menyebabkan keganjilan. Mereka mengaku sebagai utusan dari Negeri Dingin yang akan mengakhiri hidupku. Siapa pun tentu takut mati. Aku melarikan diri. Tak ada yang mengejar. Kulihat mereka juga menjadi batu.

Kuceritakan ini padamu, karena suatu saat aku tidak ingin dikenal sebagai Raja Jahat. Mereka menjadi batu karena keinginan mereka sendiri. Kau tahu, bukan? Segala hal tidak bisa menghindar dari kekuasaan waktu. Namun, ada satu hal yang barangkali bebal terhadap waktu. Adalah batu. Dia akan tetap batu mau sepuluh tahun atau ratusan tahun mendatang. Mereka bisa merenungkan kesalahan mereka selama membatu. Barangkali, mereka akan hidup kembali saat menyadari kesalahannya. Tapi sungguh, aku tidak mengutuk mereka agar menjadi batu.[]

Sampang, 24 April 2020.
Labels: 2020, Cerpen, Fiksi, Tentang Negeri

Terima Kasih telah membaca Raja Jahad - Cerpen Ali Mukoddas. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Raja Jahad - Cerpen Ali Mukoddas"

Back To Top