Kepergian


Len bertanya-tanya apakah dirinya masih pantas disebut sebagai pengarang. Len tahu mengarang itu mudah, tinggal karang saja, selesai. Tapi perkara itu tidak semudah ucapan. Len mati-matian mempertahankan dirinya sebagai pengarang. Pengarang harus selalu mengarang dalam hidupnya. Len rasa, hidupnya pun perlu dikarang pula. 

Umur Len belum genap 24 tahun, tapi dia ingin menikah secepat mungkin. Masalahnya, dia tidak tahu harus menikahi siapa. Mencari pasangan hidup lebih susah dari sekadar mencari pekerjaan, Len sadar itu. Berusaha tampil semenarik mungkin, tapi siapa yang akan melirik? Len pikir dirinya akan menikahi siapa pun yang bersedia datang untuk mencintainya. 

Mencari pasangan hidup, Len lakukan itu demi mengisi kekosongan hidupnya. Dia rasa hidupnya penuh lubang, lubang yang sering menganga kala malam dan kesedihan datang. 

Len duduk di depan cermin, memandangi wajahnya sendiri. Dahi yang mulai berbintik, mata yang dilingkari warna hitam, hidung yang dirasa sedikit mancung, seharusnya ada yang tertarik pada dirinya melalui hidung. 

Tampang yang dirasanya biasa-biasa saja itu membuatnya malu menatap cermin. Len tersenyum, gigi jarang-jarangnya membuat senyumnya berhenti, lantas lompat ke tempat tidur, memeluk guling. Begitukah manusia hidup? 

Guling Len peluk erat, dia berdoa dengan memejamkan mata, “Kalau memang jodoh itu ada, segerakanlah dia menikahiku.” Usai doa itu tergumam, Len pikir, barangkali kematian lebih dulu datang mendahului si jodoh. Len berteriak seraya membungkam mulutnya dengan ujung guling. 

Segera Len duduk bersandar pada dinding. Dilihatnya langit-langit kamar. “Apa gunanya lampu, kalau jendela sudah cukup menerangi seisi kamar?” Kalimat tersebut Len lanjutkan dengan gumaman, “Apa gunanya hidup dengan pasangan, kalau tanpa pasangan saja sudah bahagia? Sayangnya aku tak ingat kapan terakhir kali bahagia.” Sandaran Len semakin rendah. Wajahnya tertutup rambut bagian depan, dan dia merasa seperti kuntilanak yang tak bisa menembus dinding. 

Lampu jalanan cukup terang melewati jendela kamar Len yang terbuka. Len tak perlu menyalakan lampu, dia tak suka terang. Dia lebih senang berdiam di tempat gelap. Gelap beberapa kali membuat dia tenang, beberapa kali pula membuatnya senang menangis berlama-lama. Len sadari dirinya sering menangis tanpa sebab. 

Kehidupan berkeluarga, seharusnya sudah Len rasakan. Adik, kakak, dan kedua orangtuanya masih ada. Tapi tak mungkin dia memeluk keluarganya terus-menerus, atau tidur bersama, atau mandi bersama. Dia sudah dewasa, kemudian memilih hidup sendiri dengan menutupi banyak hal. Seperti menutupi hasrat atas menikah, misal. 

Len berdiri, membuka lemari baju, mengeluarkan semua isinya, kemudian merapikannya kembali. Dia rasa dirinya tak memiliki sesuatu yang berarti. Sebutan sebagai pengarang? Itu hanya hiburan baginya. 

Setelah bosan melakukan hal yang entah-entah itu, Len duduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada tempat tidur. Dia ingin mengarang, mengarang sesuatu yang tak pernah orang karang. Mengarang ulang hidupnya. 

Mengarang hidupnya sendiri, Len rasa belum pernah ada penulis yang melakukannya. Singkat Len berdiri, dan berdiam di depan cermin. 

Rupa, postur tubuh, dan umur kehidupan, Len karang ulang. Sekarang dia adalah Len berparas cantik, bertubuh ideal dan berumur 25 tahun, lebih tua dari umur yang sebelumnya, dia rasa akan membuat keinginan menikahnya tampak normal. Menikah di usia 25 tahun dengan paras yang sempurna. 

Tempat tidur, lampu, langit-langit kamar, dinding dan lemari menjadi taman, lengkap dengan kolam ikan, bunga, tempat duduk dan pohon rindang yang membuat teduh hamparan rumput. 

Sekarang dirinya adalah orang yang duduk di depan bunga. Dia harap akan ada orang yang menghampiri dan mengajaknya menikah. Namun, sampai satu jam berlalu, tak ada siapa-siapa. 

Len melompat ke dalam kolam ikan. Dia ingin tidur, merendam rasa kesal. “Bahkan dalam dunia karangan pun susah mendapatkan seseorang yang mau mengajak menikah.” 

Pilihan terakhir, Len ingin mengarang mimpinya. Tidur dengan memimpikan ada seseorang yang mendekati dan mengajaknya menikah. Seumur hidup, Len tak pernah bermimpi yang demikian, tapi mengarang mimpi seharusnya hal yang tidak begitu sulit dia lakukan. Pikirnya begitu. Sampai dirinya terlelap, dia hanya menemukan lubang gelap, lebih gelap dari kamar mandinya yang tanpa lampu. Len ingin bangun dan berhenti sebagai pengarang, tapi lubang gelap itu terus memanggilnya. 

Dalam mimpi yang tak bisa dikarang, Len pasrah. Dia pergi ke mulut lubang yang terus memanggil namanya. Dia tak pernah kembali dari lubang itu. 

*** 

Aku tahu Len sering murung, walau itu tidak sesuai dengan nama yang ayah berikan. Len, seharusnya berarti ceria menyinari, setidaknya itu yang ayah jelaskan padaku. 

Sebagai adik, ingin sekali kupeluk dia. Berharap bisa menghiburnya. Tapi tahulah, kakakku itu sudah dewasa, dadanya sudah berisi. Berani memeluk, bisa ditendang. 

Aku tidak tahu pasti perihal murungnya Len. Barangkali karena dia tak pernah percaya akan kecantikannya. Contohnya saja, semua akun media sosialnya seperti akun teroris, tanpa foto, kalaupun ada paling foto hewan atau apalah itu. Andai dia bukan kakakku, mungkin sudah kujadikan pacar. 

Namun Len, kakakku yang malang. Kecantikannya tak tersentuh. Dia ditemukan meninggal dalam keadaan tersenyum memeluk guling. Ayah dan ibu menangis histeris. Dan aku, entah kenapa tak bisa menangis. Sekadar pura-pura menangis pun tak bisa. 

Aku menyaksikan tubuh Len dikubur. Pada persaksian itu, aku hanya mengingat kebebalanku, tantang banyak lelaki yang mendekatiku demi tahu keadaan Len. Aku selalu berbohong agar tak ada lelaki yang datang ke rumah lantas meminta Len untuk dijadikannya istri. Sebagai saudara, aku akan sangat merasa kehilangan, dan sangat tak terima kecantikan itu dimiliki orang lain. 

Berapa lelaki yang kutipu agar Kak Len tidak dibawa pergi? Entah. Barangkali sebanyak pemuda yang datang ke kuburannya.[]

Sampang, 04 Mei 2020
Labels: 2020, Cerpen, Fiksi

Terima Kasih telah membaca Kepergian. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Kepergian"

Back To Top