Pesan Moral



Semua hal bisa dilakukan, tapi jangan dilakukan semuanya, karena kau bukan tuhan. Segala hal bisa dirasa, tapi jangan dirasakan semuanya, tak akan sanggup jiwa yang serupa api kecil itu menanggung bebannya. Perasaan, bebannya seperti gunung di setiap satuannya. Kalau ribuan perasaan diambil, bayangkan berapa gunung yang bertengger di dirimu?

Konteks yang seperti itu seharusnya bisa diterapkan dalam kehidupanmu yang kosong, yang tak mau melakukan satu hal secara berulang. Kau memilih melakukan banyak hal tanpa pernah mengulanginya seumur hidupmu. Paling yang kau ulang hanya makan, tidur dan sejenisnya.

Namun, sebagai pengarang, tentu telah kau lakukan beberapa hal yang sama berulang tanpa bosan, yaitu kemalasan dan kegagalan menuliskan cerita. Ah, cukup memuakkan menjadi manusia yang lemah dan sering kalah pada sesuatu yang bahkan, tak memiliki tangan atau senjata pemukul. Iya, bayangkan, bagaimana kemalasan mengalahkan banyak orang sedang dia hanya diam, tanpa baku hantam?

Siapa pun yang malas, sepatutnya bertobat dari kemalasan itu. Malas berpikir, malas merasa, atau bahkan malas menahan diri dari tidak berkomentar. Sekarang ini, barangkali kau sedang malas menyadari kecemasan? Cemas saat tak ada yang bisa ditulis secara riil tanpa melibatkan imajinasi.

Setiap kalimat, bahkan setiap yang tersusun dan memberi makna, tak selamanya bisa dimengerti oleh orang lain sekuat apa pun kau memberi makna. Jelas, kebanyakan orang saat ini malas memahami makna. Dari saking malasnya, sampai ada spekulasi pemaknaan pada sesuatu yang sudah lama maknanya terpendam. Oh, ya, tak ada yang menyinggung RUU HIP lo, ya. Jangan sambungkan kemalasan memberi makna pada pembahasan tersebut.

Tentang sesuatu yang dianggap tak memiliki makna. Barangkali kau pernah mendengar bahwa, setiap karya harus memiliki pesan moral. Walau sebagian menyatakan, tak memiliki pesan moral tak apa, tapi akibatnya tak akan ada yang melirik. Sesuatu tanpa makna, buat apa?

Konteks semacam ini semisal disambungkan pada hasil karangan, baik film, cerpen, puisi dan novel, sepertinya tak ada guna. Bayangkan, kau menuntut pesan moral pada sesuatu yang tak memiliki nyawa? Semisal ada seseorang membaca cerpen, lalu menyatakan cerpen tersebut tak memiliki pesan moral, sudah jelas bukan cerpennya yang tak memiliki moral, tapi pembacanya. Mudahnya, hanya orang tak bermorallah yang bisa mengindentifikasi sesuatu itu tidak bermoral. Semisal yang membaca orang yang bermoral, cerita jelek macam apa pun, tetap akan dianggap bermoral, karena memang pembacanya bermoral.

Jadi, lupakan komentar orang yang tidak bermoral. Lupakan komentar orang yang tak mengerti, karena memang tentu tak pernah ada kata mengerti dalam hidupnya. Kau hanya perlu melakukan sesuatu berulang yang kamu bisa.[]

Labels: 2020

Terima Kasih telah membaca Pesan Moral. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Pesan Moral"

Back To Top