Tujuan tak Guna

Hal final dari sesuatu yang hidup adalah kematian. Setelah sampai final, apa yang akan dilakukan oleh sesuatu yang pernah hidup tersebut?

Di sini perlu diperjelas bahwa, lawan kata kematian adalah kelahiran, bukan kehidupan. Kehidupan hanyalah jalan, yang rentang jarak dan waktunya beragam. Itulah sebab, kadang ada bimbang yang terselip di antara semangat menjalani hidup.

Bimbang kadang datang saat semangat menulis dan semangat belajar sedang sadis-sadisnya. Saat itu pulalah pertanyaan tentang apa tujuan sebenarnya dari hidup, seringkali membuat semangat tersebut lenyap seperti tak pernah terpikirkan.

Bukankah, sebanyak apa pun manusia berbuat, muaranya adalah kematian? Seperti halnya orang tua merawat anaknya, bertahun-tahun dibesarkan serta menghabiskan banyak biaya dan tenaga, tapi pada akhirnya anak yang dibesarkan mati. Sia-sia.

Baik, tidak ada yang sia-sia di dunia ini, semua memiliki arti dan pengertiannya masing-masing, tapi untuk urusan yang kasat mata jelas-jelas banyak ruginya, susah untuk mengatakan bahwa hal tesebut tidak sia-sia.

Bukankah percuma melakukan ini itu, hidup berkecukupan dan segala kebutuhan terhidangkan dengan mudah, kalau pada akhirnya berakhir pada ketiadaan? Sepanjang-panjangnya usia, ketahanan tubuh setiap manusia memiliki limitnya tersendiri. Umur 200 tahun, tapi tak bisa berdiri, kulit keriput, pucat dan tak bisa melakukan apa-apa, apanya yang berarti?

Barangkali ada yang pernah mendapati drama kehidupan konyol seperti ini; "Ada presiden, disandera oleh teroris. Presiden bisa lepas asal ditebus dengan uang 100 triliun. Kalau tidak ditebus, presiden akan mati." Bagi manusia yang memiliki satu sudut pandang, pasti memilih menebus presiden meski harus kehilangan uang 100 triliun. Karena presiden dianggap lambang negara, kalau presidennya mati sama saja dengan membuat negara mati. Tapi untuk orang yang memiliki banyak sudut pandang, tentu tak akan semudah itu menebus presiden dengan uang 100 triliun. Uang sebanyak itu, bisa menghidupi banyak orang dalam waktu yang cukup lama. Daripada untuk kehidupan satu orang, mending uang 100 triliun tersebut untuk banyak orang. Toh, ditebus atau tidak ditebus, suatu saat si presiden akan mati juga.

Penjelasan yang menggunakan perbandingan seperti di atas, kadang terasa seperti ceramah atau petuah yang tak penting untuk diperhatikan. Itulah sebab, sepertinya orang dewasa perlu dinasihati anak kecil. Anak kecil dengan pikiran polosnya akan membuat orang dewasa sadar, bahwa dirinya perlu perbaikan. Sama halnya dengan pengertian tentang tujuan hidup manusia yang sebenarnya, perlu diperbaiki oleh anak kecil. Setiap dari orang harus kembali menggunakan akal polosnya untuk memahami. Bahwa, jadi apa pun, sebesar apa pun pencapaian, tetap berujung pada kematian.

Apa perlu kecewa setelah menyadari diri akan mati? Seharusnya tak perlu, kalau, menjalani kehidupan dengan pilihan hati. Memang, setiap hal yang dilakukan pasti berujung pada kekecewaan dan ketidakpuasan atau pula penyesalan. Tapi kalau menjalaninya dengan hati, barangkali kecewa dan penyesalannya tidak terlalu menyakitkan.[]



Labels: 2020

Terima Kasih telah membaca Tujuan tak Guna. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Tujuan tak Guna"

Back To Top