Pecundang Beda Tipis dengan Pengalah

Satu hal yang tidak dipahami orang tua, dia suka memarahi anaknya sedang si anak tak pernah mau orang tuanya marah. Anak pergi meninggalkan orang tua, sudah menjadi kasus umum. Ketika ditanya, kenapa memilih pergi? Mereka hampir memiliki alasan yang sama, "Orang tua saya sering marah."

Seorang anak, kadang memilih dimarahi orang lain daripada dimarahi ibu atau ayahnya. Mereka tidak ingin dimarahi oleh orang yang seharusnya menyayangi, bukan memarahi. Walau, jenis sayang orang tua kadang berbeda-beda, dan anak terlanjur mengartikan kemarahan sebagai bentuk dari kebencian. Ini bisa diatasi, andai orang tua tahu ketakutan dari seorang anak, andai pula orang tua tahu bahwa anak menganggap mereka sebagai pelindung, bukan ancaman.

Jujur saja, kalau saya sendiri, bodo amat mau orang tua marah atau tidak. Tak ada pengaruhnya,. Dimarahi, dibenci, dipuji atau sejenisnya, tak peduli. Yang jelas, aku tetap menganggap mereka sebagai orang tua sebagaimana kodrat orang tua berada. Orang tua kodratnya mendidik, menyukai anak, membesarkan dan melindungi. Semisal ada orang tua yang garangnya melebihi ular kobra, itu bentuk perlindungan lain yang patut dimonumenkan.

Kelak, saat seorang anak paham tentang kemarahan orang tua, tentang mengapa orang tua memukul, meninggalkan atau bahkan kadang mendiamkan, anak tersebut pasti akan senyum-senyum sendiri menyadari kebodohannya. Tapi, ya... orang tua itu kadang merasa sudah berbuat adil pada anaknya, sedang anak tidak mau paham situasi orang tua. "Anak meninggalkan orang tua sedang orang tua sudah memasuki usia yang perlu perawatan khusus, bukan kesalahan anak, sungguh karena keegoisan keduanya yang tidak mau saling mengerti." Lah, bagaimana bisa mengerti, sedang orang tua mengharap anaknya paham, dan si anak mengharap orang tua memahami dirinya.

Andai didramatisasi, mungkin bunyinya seperti ini:
"Saya ini anakmu, seharusnya orang tua memahami anak yang dilahirkannya."
"Lah, kamu itu anakku, yang sudah aku rawat sejak merah, seharusnya paham kasih sayang orang tua."

Sebelum saling berharap pada sesuatu selain tuhan itu berlangsung hingga kematian bertamu, sebaiknya berunding tentang keinginan masing-masing. Kesalahpahaman sering terjadi saat seseorang memilih diam sedang dia ingin bicara.

Akhirnya, saya berceramah tentang orang tua. Ceramah ini dikhususkan kepada anak yang meninggalkan orang tua, dan orang tua yang meninggalkan anak, dan kepada kamu yang merasa akan hidup sampai usia tak menentukan batas limitnya.[]
Labels: 2020, Renungan

Terima Kasih telah membaca Pecundang Beda Tipis dengan Pengalah. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Pecundang Beda Tipis dengan Pengalah"

Back To Top