Belajar Ikhlas

Ini pelajaran yang lumayan susah. Tidak semudah yang dikatakan Sujiwo Tejo, "saat kau lupa, di sanalah kau ikhlas." Tidak semudah yang dikatakan Imam Al-Ghazali, "menjadikan segala macam amalan hanya untuk Allah," atau seperti yang dikatakan orang tua pada anaknya, "mengerjakan apa pun jangan tanya kau akan dapat apa, lakukan saja." Ikhlas semudah itu? Berapa banyak orang yang bisa?

Ikhlas seharusnya seperti Naruto, yang menjalani hidupnya sesuai dengan cita-cita, baru dia ikhlas. Atau, ikhlas seharusnya seperti yang kru bajak laut Topi Jerami lakukan, rela mengorbankan nyawanya demi sang kapten. Tapi, apa bisa manusia lemah meniru karakter dalam tokoh komik itu?

Pilihan terakhir, bagi saya sendiri, ikhlas bukanlah itu semua. Saya tidak begitu islami, jadi akan susah untuk bilang ikhlas karena Tuhan. Saya tidak begitu baik, jadi tidak bisa mengerjakan sesuatu tanpa kejelasan. Saya juga bukan manusia yang mudah lupa pada sesuatu yang lumayan susah dikerjakan, kalau hal-hal remeh, barangkali mudah sekali untuk lupa, ya, bisa dikata saat itu saya ikhlas.

Penerimaan, bukan hanya susah dilakukan, tapi susah juga untuk dihindari. Cara terakhir, barangkali harus digabungkan seluruh pemahaman tentang ikhlas yang dipahami banyak orang. Kemudian saya temukan keikhlasan yang membuat diri lebih bebas dan tak peduli pada apa pun.

"Lakukan sesuatu yang kau bisa, tak peduli kau lebih banyak melakukan sesuatu daripada orang lain (meski imbalannya sama dengan orang lain yang bekerja lebih sedikit). Lakukan sepenuh hati, hingga kau tak memedulikan hasil, kau hanya peduli pada sesuatu yang kau bisa."

Itu kalimat yang sering saya gunakan untuk menyemangati diri sendiri. Kalimat itu cukup ampuh, sebanting-tulang apa pun, selama sanggup melakukannya, tak ada kata menyesal, apalagi menuntut hasil dari hal yang dikerjakan. Tapi kekurangan dari kalimat itu adalah, saya mulai tak ikhlas ketika "saya telah melakukan sesuatu yang tidak saya bisa, dan saya dipaksa melakukannya padalah mereka tahu saya telah berkata tidak bisa."

Contoh sederhananya, saya disuruh bunuh diri, sedang saya tak bisa melakukan itu, toh kalau saya betulan bunuh diri, tentu saya tak ikhlas. Ah, itu contoh yang sedikit sadis dan semua orang tentu tak menginginkannya. Baik, coba contoh yang lebih dekat dengan keseharian, seperti kau dipaksa membaca lima buku dalam waktu sehari, harus paham keseluruhannya, kalau tidak kau harus mengulang mata kuliah di semester enam. Oh, itu contoh yang jarang ada, coba contoh lain. Baik, contoh yang lebih menyakitkan; kau dipaksa meninggalkan orang yang tidak bisa kau tinggalkan.

"Bukankah semua contoh itu bisa kau lakukan meski terpaksa?"

Kalau begitu, saya masih bisa ikhlas melakukan hal yang dipaksa, asal saya bisa melakukannya. Itu saja, bukankah sudah jelas?

Jangan tanyakan bentuk ikhlas seperti apa. Dia tidak cantik, tidak juga tampan.[]



Labels: 2020, Cara

Terima Kasih telah membaca Belajar Ikhlas. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Belajar Ikhlas"

Back To Top