Akal dan Nafsu



Akal berfungsi untuk menahan, mencekal dan membatasi. Sedang nafsu adalah sesuatu yang tidak ada batasnya. Semisal ada orang yang ingin hidupnya bebas tanpa kekangan, sudah jelas bahwa orang tersebut menghamba pada nafsu. Akal sebagai pelengkap agar nafsu tidak melewati batas-batas tertentu, baik batas etika, akhlak, etiket, dan norma sosial serta hukum-hukum yang berlaku.

Kenapa akal disebut sebagai suatu hal untuk menahan? Bukankah akal itu untuk berpikir?

Pertanyaan tersebut bisa ditanyakan balik. Memang nafsu memiliki batasan? Nafsu bisa berpikir? Berapa banyak orang yang menyimpan makanan melebihi kapasitas isi perutnya?

Akal cenderung bertindak untuk masa depan. Nafsu cenderung melihat masa lalu. Karena nafsu kaitannya erat dengan rasa, sedang akal tak memiliki rasa untuk dicicipi. Orang yang tidak peka, dia adalah orang yang menggunakan seluruh akalnya hingga tidak memberi kesempatan perasaan menguasai sedikit saja peran di dalam diri. Sebaliknya, orang yang amat peka, mudah baper, dia seringkali meninggalkan akal di dalam dirinya.

Saat ini, kalau dikatakan banyak orang mudah baper, mudah peka, berarti sedikit sekali tempat akal di dalam dirinya. Ini tidak masalah sebetulnya, biasa-biasa saja. Dan akan lebih elegant kalau bisa mengombinasikan keduanya. Walau ketika hal tersebut dilakukan, orang lain akan melihat diri sebagai sesuatu yang plinpan, tidak berpendirian. "Kau mau menjadi perasa atau pengakal?"

Jadi maklum saja bila ada orang yang sifatnya dingin, dia barangkali tak punya nafsu, rasa. Ada juga orang yang mudah menangis, ambisius pada tujuannya, barangkali tidak ada akal di kepalanya. Iya tidak punya akal, sebab seambisius apa pun diri, ujungnya adalah kematian.[]

Labels: 2021, Abstrak

Terima kasih telah membaca Akal dan Nafsu. Kalau Anda suka, bagikan!

0 Comment for "Akal dan Nafsu"

Back To Top