Psikopat dalam Agama

Bila banyak orang sering memikirkan kalimat baik dalam benaknya untuk mendekatkan diri pada Tuhan, saya lebih cenderung memikirkan banyak kalimat buruk untuk sedikit saja sadar akan Tuhan. Sebab, mendekatkan diri pada Tuhan hampir mirip dengan mendekatkan diri pada kematian. Meski barangkali, tidak semua orang yang mati bisa bertemu dengan Tuhan, tapi kedekatannya tentu lebih jelas dibanding orang yang masih hidup. Dan tahulah kalimat buruk yang seringkali saya pikirkan adalah soal kematian tersbut. "Aku akan mati, aku akan mati," begitu terus, kalimat tersebut menggema di kepala, seakan menjadi kalimat zikir untuk membuat diri tidak berbuat yang bukan-bukan. Normalnya, kebanyakan orang akan memikirkan kalimat istighfar untuk menyekat dirinya dari perbuatan buruk. Sayangnya, kalimat istighfar tidak mempan pada diri yang imannya tergolong sangat dangkal ini.

Kadang, saya menulis catatan tentang kematian. Tulisan yang lebih menyerupai skenario apa yang akan dialami bila mati. Kadang pula seperti orang yang sakit keras dan mendekati alam ketidaksadaran. Berikut saya kutip catatan tersebut:
"Aku sakit, dan merasa akan segera mati. Wajah malaikat maut seringkali berkelebat, seakan telah lama mengenal diri yang tak kunjung bertobat.

Ho, penjemput jiwa manusia. Bila jiwaku tak suci, tolonglah pelan jangan berlari. Sebab diri telah mengalami keringkihan, kerusakan, dan kerasukan hal-hal gaib dari hati yang terbolak-balik. Mohon sampaikan ampun diri ini pada Tuhan yang mengutusmu untuk menjemput.

Aku takut, namun keteledoran sering menang di atas ring pertarungan jiwa yang gila. Ampuni, sampaikan ampun pada Tuhan pencipta diri ini.

Barangkali kata ampunku tak sampai sebab dosa begitu tebal menggumpal.

Bila nadiku tak lagi terasa, biarkan dosa melupakan kebaikannya."

 

Kadang pula, seperti seorang yang siap dengan wasiat untuk kerabat, teman atau orang yang menyukai saya diam-diam (siapa pula yang suka pada orang seperti saya), saya menuliskan kalimat yang menyayat diri sendiri.
"Aku mulai lelah menatap keberadaan dunia. Memikirkan luasnya semesta. Atau merenungi keberadaan diri yang sering berlaku sia-sia.

Kelelahan tersebut seperti tak akan memiliki ujung. Memberatkan pundak, menyerikan punggung, dan kadang memekakkan kepala.

Di suatu hari, aku tak berani memikirkan hidup lebih lama lagi. Aku berpikir, kepergian lebih cepat akan sangat memperingan langkah daripada menunda-nunda yang berujung pada kemalasan. Kalau kelak juga akan pergi, kenapa tidak dipercrpat saja langkahnya?

Aku ingin pergi. Tanpa perlu diantar. Karena itu hanya akan membuatku sedih.

Aku juga tak ingin memiliki foto diri, sebab itu akan menyakitkan bagi mereka yang mencoba mengenang.

Cukup saat kedatangan di dunia yang asing yang membuatku menangis. Kepergian kelak, di tempat yang asing, aku tidak ingin menangis lagi.

Sejujurnya aku tak pernah siap. Meski dihitung satu sampai seratus, aku tak pernah siap untuk pergi. Tapi, aku harus pergi sebagaimana orang lain pergi. Cepat atau lambat. Siap atau tidak."

Seraya membaca tulisan tersebut, ada baiknya diiringi latar musik perjalanan Kera Sakti ke barat. 

Pada akhirnya, meski seringkali berusaha berbuat baik, saya tidak tahu apakah perbuatan tersebut baik atau tidak, dan seringkali saya gagal meninggalkan keburukan meski taubat sering terucap di setiap waktu.

Oh, betapa malangnya.

Labels: 2021, Renungan

Terima kasih telah membaca Psikopat dalam Agama. Kalau Anda suka, bagikan!

0 Comment for "Psikopat dalam Agama"

Back To Top