Cara Pikirmu, Senjata

Manusia berpikir sesuai ajaran yang pernah dilaluinya. Masa yang pernah dilalui tersebut selalu ada ikut andil guru yang memberi pemahaman baru. Bila pemahaman tersebut kamu anggap benar, kamu akan meyakini dan menanamnya dalam ingatan, hingga bertahun-tahun, tak teruntuhkan. Begitulah sistem pemahaman terus bertambah, berkurang, dan kadang mengalami revisian sendiri karena bacaan dan perenungan.

Tidak aneh bila ada seseorang yang tak menerima golongan lain karena tidak sepemahaman, semanhaj, sekufu, dan semazhab. Dan akan sangat aneh bila ada orang yang bisa menerima pemikiran lain, atau aliran lain begitu saja tanpa coba memahaminya. Tapi, setiap hal yang coba dipahami, pasti akan bisa dipahami dan terikut arus di dalamnya. Sejauh ini, kamu barangkali mencoba untuk tidak ikut arus, menerima pemahaman yang datang dengan mengolahnya terlebih dahulu, dan bila masuk ke logika setelah kamu merenung, kamu akan mengambilnya. Sayangnya, kamu akan dianggap orang yang salah dan sesat atas pemahaman tersebut. Padahal, bila ditanya, apakah ada pemahaman yang betul-betul benar, dan ajaran yang betul-betul tinggi melebihi ajaran lainnya, orang yang menganggap kamu salah tersebut, akan menjawab dengan dalil kuno dan kalimat sejenis yang berbunyi, "sudah dari sananya." Padahal, manusia modern butuh sebab akibat, kelogisan dan kesesuaian dengan hidup. Semistis apa pun, bila kamu bisa melogiskannya, tidak ada yang aneh. Meski barangkali akan ada orang yang menganggapmu salah karena merasionalkan sesuatu yang mistis (karena sudah tertanam dalam kepala, hal mistis tidak bisa dirasionalkan).

Bila datang kepadamu orang yang mengambil ajaran apa adanya, plek sama persis seperti guru, buku atau kitab aslinya tanpa menyaringnya terlebih dahulu, maka orang tersebut perlu kamu beri jarak. Jangan langsung berikan penjelasan soal apa yang kamu pahami, baiknya kamu tanyakan apa yang orang tersebut pahami. Dari situ, kamu akan mendapatkan pelajaran.

Ajaran bisa datang dari mana saja, dari perbuatan setan pun, bisa dijadikan ajaran. Namun, pada siapa hal tersebut akan disalurkan, itulah yang perlu disaring. Bila kau memahami sesuatu yang menjadi pertanyaan panjang, tak perlu mengumbar jawaban dari hasil pertanyaan tersebut ke orang yang tak pernah sebersit pun di kepalanya menanyakan hal yang sama. Karena hal yang seperti itu akan keras seperti membentur batu.

Kamu bisa hidup sesuai yang kamu inginkan, tapi belum tentu orang lain akan mau hidup denganmu. Kadang, kamu harus hidup sesuai dengan keinginan orang agar kamu bisa hidup. Memang, cara hidup seperti ini akan membuatmu bertanya, "Seberharga apakah hidup? Bila untuk bisa bernafas saja harus disenadakan dengan nafas orang lain?"

Percakapan panjang antar manusia sungguh akan sangat sia-sia bila di antaranya tidak ada yang mau saling memahami tentang apa yang mereka percakapkan.

Bila kamu pernah merasa kafir, bila kamu pernah merasa ateis, bila kamu pernah merasa di neraka, bila pula kamu pernah merasa takut untuk menyebutkan nama Tuhan, itulah kamu. Kekafiran adalah tertutupnya fikiranmu atas kebenaran, keateisan adalah tindakanmu yang seakan membelakangi Tuhan, nerakamu adalah keburukan yang kamu sesali tapi diulang kembali, dan ketakutanmu menyebut nama Tuhan baik dalam tulisan atau dalam percakapan dengan orang adalah bentuk ketidakberanianmu menghadap Tuhan, disertai banyak dosa, disertai keangkuhan diri, disertai kesombongan, dan disertai ketidakberdayaan untuk melihat keindahan Tuhan.


Labels: 2021

Terima kasih telah membaca Cara Pikirmu, Senjata. Kalau Anda suka, bagikan!

0 Comment for "Cara Pikirmu, Senjata"

Back To Top