Jiwa yang Teguh

 Jiwa yang lebih besar, lebih tinggi, dan lebih angkuh dari tubuh jasmani, adalah jiwa yang selalu saya dambakan. Saya berusaha membesarkan jiwa meski selalu gagal, lupa, tergores oleh besitan sekilas dan digilas kemalasan. Memulai pembesaran jiwa selalu asyik dari hal yang kecil-kecil. Bersabar, seringkali coba saya pertahankan, meski di benak dan dada terasa sesak dan ingin menggerutu panjanh, tapi itulah usaha saya membesarkan jiwa.

Lah, orang kurus kecil seperti saya, bila tak ada usaha membesarkan jiwa, mau membesarkan apa? Toh, gebetan tak punya, istri apa lagi, tanggungan rumah juga tidak.

Di hadapan orang lain, saya seringkali mendapatkan kalimat, "Ali Mukoddas itu baik." Mendengar kalimat tersebut, saya seperti ditampar di depan calon mertua. Sebab, setiap kali mengoreksi diri, tak ada kebaikan yang saya lakukan. Bahkan, menulis dengan baik pun, masih jauh dan dekat bila disebut sebagai orang jahat.

Iya, tampak luarnya saja yang pendiam dan seperti orang pada umumnya. Mau bagaimana lagi, masa harus bersikap aneh? Saya tak suka menjadi pusat perhatian (saat menulis ini, saya merasa kurang pas, atau jangan-jangan saya sudah menjadi pusat perhatian?😱)

Umumnya, manusia berbuat jahat dilakulan secara diam-diam, biasanya.

Saat ini, jiwa saya masih kecil. Buktinya, datang ke rumah orang saja serasa seperti maling yang ketahuan.


0 Comment for "Jiwa yang Teguh"

Back To Top