Perantau Tak Lebih dari Penjajah

"Merantaulah, Nak Caraka. Pendahulu dan nabi yang ayahmu kagumi adalah perantau."

"Apa ibu membesarkanku hanya untuk disuruh pergi?"

Pertanyaan tersebut tidak dijawab oleh Tanima, dia memalingkan pandang dari putranya. Dia tidak mau putranya melihat mata yang perlahan sembab.

Satu minggu dari percakapan tersebut, Caraka berangkat merantau. Caraka tidak tahu apa yang harus dia lakukan di tempat rantau. Ibunya hanya berkata, "Lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan, Nak."

Walau Caraka tidak tahu apa saja yang ingin dilakukannya, dia berangkat setelah merangkak tiga kali berulang di bawah selangkangan ibunya yang berdiri di mulut pintu.

Tentu selalu ada tangis di pertama kali kepergian, tapi Caraka tidak mau menangis, dia seperti dendam pada ibu yang telah menyuruhnya pergi.

"Kepergian selalu singkat, tapi menyisakan kesedihan yang lama. Anehnya kau tidak sedih sama sekali. Merasa senang bisa pergi dari keributan keluarga?"

Caraka tidak peduli dengan lelaki tua di sebelahnya. Perjalanan panjang ke Jogja, membuat lelaki yang duduk di sebelahnya itu gatal menahan percakapan. Sebelumnya, Caraka hanya menjawab singkat, dan berkata bahwa dirinya baru pertama kali pergi ke Jogja.

Tinggal di kota yang penuh keilmuan, Caraka merasa dirinya amat bodoh. Dia mengikuti seminar-seminar kecil yang berharga murah. Setiap selesai mengikuti seminar, dia merasa lebih pintar.

Beberapa bulan tinggal di Jogja, Caraka mulai sadar, pintar saja tidak cukup tanpa uang. Demi bertahan hidup, dia melakukan hal apa saja yang bisa menghasilkan uang. Kalimat ibunya tentang dia boleh melakukan apa saja seperti doa yang terkabul begitu saja.

Satu tahun berlalu, Caraka pergi ke Jakarta. Kembali ingin melakukan apa saja. Melakukan apa saja di Jakarta termasuk bagian yang susah baginya. Lalu dia melakukan kudeta di suatu instansi negara, dan dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa sebab Caraka sebetulnya tidak masuk ke jajaran pekerja atau pengemban jabatan. Dia hanya orang lewat yang bertindak seperti preman mengusir pedagang. Miris.




Labels: 2021

Terima kasih telah membaca Perantau Tak Lebih dari Penjajah. Kalau Anda suka, bagikan!

0 Comment for "Perantau Tak Lebih dari Penjajah"

Back To Top