Waktunya Melihat Diri Sendiri

Waktunya melihat diri sendiri. Menata kembali rambut yang digantungi kesombongan. Memangkas jenggot yang dipertahankan sebagai cerminan. Jati diri kadang berjatuhan seperti musim. Taman yang lama tertutup perlu dibuka kembali. Kesuraman kala sore hingga pagi biarkan, tapi mari beri lampu yang lebih terang.

Kau barangkali hanya seutas ingatan dari masa lalu untuk menggapai si pengingat di masa depan, tapi kau adalah batu loncatan bagi kau sendiri yang tentu lebih penting dari ingatan. Bila setiap hal bisa sampai ke masa depan berkat tulisan, cukuplah yang dirasa sekarang ini menjadi landasan bagi dirimu sendiri untuk beberapa waktu yang akan datang. Kau tak bisa melekat dalam sejarah seperti orang-orang suci dan orang-orang kejam terdahulu dikisahkan hidupnya. Kau juga tak bisa mati-matian melakukan sesuatu karena hidup yang kau jalani bukan untuk diperjuangkan, tapi untuk dijalankan.

Perintah, dia adalah sebuah jalan. Larangan, dia adalah jurang. Sunah, dia adalah instruksi agar kau bisa melompat kala ada batu, duri, dan jurang di tengah jalan. Kau adalah kumpulan dari ketiga hal tersebut.

Kau dan sekutumu yang sesama manusia seringkali menyalahkan Tuhan atas sesuatu yang tidak kau setujui. Kau seringkali pula meletakkan keyakinan dan harapan pada sesuatu yang bukan Tuhan. Lalu suatu ketika kau datang, menangis, menyesal, dan menyatakan Tuhan salah atas tindakanmu memercayai selain dirinya. Kau bukan hanya bodoh dalam berpikir, tapi juga bodoh dalam bertindak.

Suatu ketika kau akan mendapi diri terperosok di antara jalan pintas. Kau tidak bisa melompat sebab tidak ada pijakan lain. Saat itu kau menangis pada diri sendiri dan itu akan sering kau dapati bila kesadaran hanya dibuat hiasan.

Kembalilah pada jalan yang telah ditetapkan. Ikuti aliran kehidupan. Ikuti benang yang membentang pada titik akhir itu. Jangan sekali-kali coba memotong benang atau aliran tersebut, sebab sekali terpotong, kau akan memasuki jalur lain yang tentu membuatmu menjadi orang lain sebab itu bukan jalanmu.

Hari ini, hati tetap menangis, seperti kau tak memiliki mangkuk untuk membendungnya.[]

Labels: 2022, Abstrak

Terima kasih telah membaca Waktunya Melihat Diri Sendiri. Kalau Anda suka, bagikan!

0 Comment for "Waktunya Melihat Diri Sendiri"

Back To Top