Upacara Kerohanian

Membabtis diri sendiri kala merasa banyak dosa adalah hal yang baik. Bersahadat setiap waktu untuk menghapus dosa-dosa kecil di waktu berkala juga baik--itulah sebab selalu ada dua sahadat di saat salat. Memahami kerohanian hanya bisa dirasa oleh diri orang yang menjalankannya. Nah, kali ini saya merasa sedang berceramah, padahal intinya saya hanya ingin melatih diri agar konsisten dalam beriman.

Konsisten dalam beriman yang saya maksud adalah, tak tergoyahkan oleh pemahaman baru tentang suatu pandangan yang jelas-jelas dijalankan kiai-kiai kampung, pondok pesantren dan penceramah yang disegani pengikutnya. Selebihnya, soal tafsir, saya sering berubah-ubah pandangan sesuai hasil pengamatan. Masalahnya sekarang, saya kembali bimbang dengan persoalan agama yang mana pembahasannya selalu hal sepele dan dangkal, yang semisal itu dilakukan pun tak akan berakibat apa-apa pada keimanan. Sebaliknya, hal-hal yang aneh dan seolah benar dalam pembahasan agama hanya dilewati begitu saja, tidak dibahas. Tahu sendirilah, orang-orang yang tidak paham agama manggut-manggut bila mendapati persoalan pelik, sedang yang paham agama jarang membuka media sosial, TV dan hal yang berbau digital lainnya, hingga mereka tak sempat memberi penjelasan pada publik--bisa dikata ada yang tidak pernah membuka sama sekali.

Saya seringkali melewati begitu saja ceramah-ceramah yang ada di media sosial, "bukan berarti saya tidak suka mendengar soal keagamaan". Kata-kata bijak yang bertebaran atas nama kiai tertentu pun, selalu saya lewati, mungkin maksud diri adalah meminimalisir mengutip kalimat orang suci yang belum tentu itu diucapkan langsung, siapa tahu hanya tafsir dari si tukang desain kata-kata bijak.

Selebihnya, soal datang langsung ke rumah kiai-kiai untuk mendapat pencerahan, saya selalu tak sanggup menahan malu. Kalau dipikir-pikir, malu dalam hal kebaikan itu hal yang bid'ah. Baik dalam hal mendekati anak orang, misal, asal dengan tujuan baik--tapi yang namanya malu, meski tidak punya rupa, dia mengakar seperti membentuk sektenya sendiri dalam kepala.

Lalu soal bacaan, entah kenapa saya lebih suka membaca hal yang jelas-jelas karangan dibanding fakta yang sedang ada di dunia. Mungkin, karena fakta sudah terlalu manipulatif dan media penyiaran hanya menjadi ajang pengepul tungku dapur. Kebenaran bersembunyi di hati orang-orang baik dan hal salah begitu gagah berkeliaran di hati orang-orang buruk.[]

Labels: 2022

Terima kasih telah membaca Upacara Kerohanian. Kalau Anda suka, bagikan!

0 Comment for "Upacara Kerohanian"

Back To Top