Jalan Hidup

Menapaki dunia persilatan, baik silat lidah atau silat tingkah.

Hingga saat ini, saya tidak memiliki tujuan pasti dalam hidup. Bagi seorang motivator, hidup seperti ini keliru, sebab di usia yang lebih dari dua puluh sudah seharusnya mencetak gol tertentu. Sayangnya, saya tak paham soal urusan hidup. Saya hanya paham menjalaninya, langkah demi langkah, yang bisa dilewati saya lewati, yang tidak bisa saya tinggalkan. Kadang saya enggan memilih jalan pintas, enggan pula melalui jalan yang sudah terang kesulitannya.
Setiap orang memiliki keyakinannya masing-masing, seperti saya dan anda meyakini arah mata angin. Peta di otak saya soal arah mata angin sudah ditanamkan dari tanah kelahiran, dari rumah. Bila matahari terbit dari sebelah kanan rumah, berarti timur, bila matahari terbenam di samping kiri, berarti barat, depan rumah adalah utara dan belakang rumah adalah selatan. Rumah tempat saya lahir otomatis menjadi kiblat, titik tumpu saya menentukan arah hingga saat ini. Lalu, bila pergi ke suatu tempat kemudian matahari terbit dari belakang tempat yang saya tinggali, peta dalam otak saya menjadi ambigu, arah barat menjadi urata, timur menjadi selatan, lalu selatan dan utara ditukar letaknya. Hal itu sering saya alami bila dihadapkan dengan tempat baru, arah mata angin perlu ditata dan dipetakan ulang. Bisa dikata, hingga saat ini saya merasa salat menghadap utara, tapi kiblat ada di arah itu menurut kompas. Setiap orang bisa memikirkan bentuk lokasi di kepalanya, namun tidak satupun dari setiap orang sama soal konsep arah yang tertanam di kepalanya. Soal arah barat dan seterusnya bisa disepakati, sebab masih ada pemandu dan titik tumpu matahari sebagai opsional, atau bintang penunjuk arah, atau pula kompas. Tapi bila sudah berada di suatu tempat yang tanpa petunjuk titik tumpu, semua orang hanya bisa mengira-ngira dirinya sedang menuju ke arah mana.
Begitulah kira-kira gol atau tujuan hidup, sama halnya dengan peta soal arah yang sudah tertanam sejak kecil di kepala setiap orang. Bila arah tujuan hidup kita tidak sama, maka itu terjadi karena memang konsep dasar soal arah yang kita pahami sudah jauh berbeda.
Ya, pastinya, kita menuju kematian, ketidakabadian. Jelas itu, tak usah dipersoalkan.
Dulu saya merawat pikiran, hingga lupa bahkan tak sempat merawat penampilan. Beberapa waktu ini coba merawat penampilan, tapi pikiran yang malah berdebu. Merawat keduanya adalah sesuatu yang cukup merepotkan. Andai penampilan bagus dan pikiran sama bagusnya, teranglah jalan hidup, entah jalan yang dimaksud di sini jalan setapak atau jalan raya. Sayangnya, banyak pikiran yang tidak sebagus penampilannya. Tapi bukankah di zaman ini, bungkus adalah nomor satu? Nomor dua ya kamu, iya, kamu.[]
Labels: 2022

Terima kasih telah membaca Jalan Hidup. Kalau Anda suka, bagikan!

0 Comment for "Jalan Hidup"

Back To Top